Pemimpin yang Baik & Keperdulian Personal

Sering saya  dihad apkan pada pilihan: sebagai seorang pemimpin apakah sebaiknya kita hanya perduli dengan urusan kerja karyawan (anggota tim) kita, atau sekedar berbasa-basi menanyakan kabar keluarga & urusan pribadinya, atau benar-benar ‘perduli’ (bahkan jika diperlukan, membantu) urusan personal anggota tim kita?

Pagi ini sebuah hikmah yang Alloh berikan.
Setengah semester ini, saya memiliki pembantu yang bersedia menemani dan membantu saya setidaknya sampai dengan saya selesai S3 di Australia. Sayangnya, mbak assistant rumah tangga kami seringkali memiliki masalah pribadi dengan suaminya yang sering cemburu dan menduga isterinya ‘macam-macam’ di Surabaya, apalagi di kota ini juga tinggal mantan suami assistant rumah tangga kami ini dan anak pertama dia. Wuah jadi ribet ya?! Kerja assistant rumah tangga kami ini sangat bagus dan sikapnya pun juga baik, hanya sering kami khawatir masalah rumah tangga dia menyebabkan dia meninggalkan isteri saya sebelum saya menyelesaikan S3. Berbagai usaha telah kami lakukan untuk memudahkan komunikasi keluarga assistant kami ini, mulai dari jadwal kepulangan kami ke Yogya yang hampir setiap 3 bulan sekali dan selama di Yogya assistant kami ini “full free of duty”, belum lagi hal2 lain yg nggak bisa saya sampaikan di sini.

Pagi ini, kembali masalah personal assistant rumah tangga kami muncul. Satu sisi, saya bisa saja sebagai “bos” dia tutup mata dan hanya sekedar mendengar keluh kesah dia tentang suami dia, pilihan lain saya bisa menjadi jembatan komunikasi antara dia dengan suami dia agar assistant saya ini bisa tenang bekerja di keluarga kami hanya konsekuensinya tentu kami melibatkan diri dgn masalah personal mereka.

Pagi ini, akhirnya saya sadari…saat seseorang menjadi anggota tim kita, maka mau tidak mau kita musti saling perduli, saling ‘terlibat’, dan saling membantu. Di saat staf saya membutuhkan bantuan saya sebagai ‘bos’ dia maka sudah semestinya saya membantunya, meski sebenarnya saya bisa menutup mata dan bersiap mencari penggantinya. Tapi bukan itu masalahnya! ini bukan masalah siapa membutuhkan siapa? tetapi ini masalah esensi sebuah kepemimpinan….aplikasi dari sebuah kemanfaatan diri…aplikasi dari perintah Alloh dan rasulnya untuk membantu sesama apalagi anggota tim kita.

Pagi ini, saya mengerti….bahwa keperdulian terhadap masalah pribadi bukanlah sebaiknya hanya sekedar basa-basi, namun semestinya musti Bismillaahirrohmaanirrohim dan dilaksanakan hingga menjadi amalan kita dan terjalinnya hubungan silaturahmi dan tim yang solid. Tentunya, setiap kebaikan PASTI akan Alloh balas dengan kebaikan, sebuah sumbangan kelapangan waktu dan perhatian PASTI akan Alloh balas dengan kelapangan waktu dan perhatian makhluk lain (juga Alloh) kepada kita.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang genuine Perduli dan Membantu tulus demi Alloh.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: