Bagaimanapun juga Attitude orang lain mempengaruhi Sikap mereka kepada kita

Kita adalah makhluk sosial, sebuah makhluk yang memang naturally membutuhkan orang lain at least untuk berkomunikasi. Sebagai makhluk yang penuh dengan keterbatasan, pasti kita juga membutuhkan pertolongan/bantuan orang lain. Bantuan ini bisa dalam wujud yang nyata seperti minta tolong, bisa dalam bentuk semi nyata seperti minta potongan harga saat membeli sesuatu, atau dalam bentuk yg kelihatannya kita tidak butuh orang lain yakni saat kita membeli barang (si penjual yang sepertinya butuh kita). Dalam semua bentuk itu pada dasarnya kita membutuhkan orang lain.

Belum lagi kalo kita bicara sistem organisasi, baik di kantor maupun di sosial. Saat seseorang diangkat sebagai seorang pemimpin, pada dasarnya dia memang menjadi pemimpin karena “diangkat” oleh orang lain, baik diangkat oleh orang lain yang memiliki kekuasaan lebih tinggi maupun diangkat secara aklamasi oleh komunitasnya.

Saat seseorang membantu kita. Memang sudah naturally, setiap manusia pasti memiliki nurani yang selalu bahagia jika membantu makhluk lain sehingga selalu ingin membantu orang lain terutama saat dia lapang. Hanya saja, sudah naturally juga (pun dibuktikan dengan theory TRA tentang human behaviour) bahwa kita melakukan sesuatu sangat dipengaruhi oleh attitude (sikap mental) kita terhadap sesuatu itu sendiri. Attitude adalah suatu sikap mental kita terhadap sesuatu yang biasanya berada pada suasana “Suka” – “Tidak Suka”, “Senang” – “Tidak Senang”, “Positif “- “Negatif”. Semakin positif attitude kita terhadap sesuatu, semakin ringan kita melakukan sesuatu tersebut, begitu juga sebaliknya.

Attitude seseorang terhadap sesuatu adalah hasil evaluasi seseorang terhadap sesuatu tersebut. Evaluasi ini bisa berbentuk persepsi yang tidak obyektif, sangat dipengaruhi informasi yang diterima, dan bisa juga dipengaruhi evaluasi terhadap konsekuensi yang akan dia terima jika melakukan atau tidak melakukan sesuatu tersebut (social norms).

Nah..kembali ke focus tulisan saya ini: Mengapa mau tidak mau kita harus berhati-hati dengan kata-kata atau tulisan kita di depan umum?

Berikut hikmah yang saya rasakan:

Sekitar 1 bulan lalu….

Terpana saya dengan kenalan baru saya, seorang student baru Indonesia yang dengan berani dan penuh semangat menunjukkan eksistensinya di internasional university. Saya temukan komentar dia di website university, tak lama kemudian keberanian inisiatif dia untuk maju bukan sebagai ketua PPIA tapi lebih lagi sebagai perwakilan student (international students) di university. Ta’ jub saya, tiba-tiba attitude saya langsung terbangun..berkembang..sangaaat positive padanya. Saat dia meminta dukungan, jelas saya dengan sangat ringan hati membantunya…dan juga banyak teman-teman lain.

2 minggu berlalu…saat saya bertemu dia dengan membawa anaknya hari Sabtu untuk olahraga bersama. “Ibunya kerja?” tanya saya..”Iya” Sabtu juga kerja. …Ini adalah suasana kehidupan yang awam buat student Indonesia di sini, dan ini hak setiap keluarga. Hanya jujur, pada saat itu attitude saya padanya mulai sedikit berkurang. Kenapa? (sekali lagi ini bukan hak saya untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi) entah naturally bayangan saya tentang profil dia & visi dia mulai sedikit pudar. Di bayangan saya, dia adalah seorang student baru yang penuh dengan visi besar untuk Indonesia, knowledge oriented, nyari uang seperlunya, dan mampu membagi waktu untuk ilmu dan keluarga.

1 bulan berlalu…sebuah email dia di mailing list membuyarkan bayangan positif dan attitude positif saya tentang dia. Dia menanyakan bagaimana jika saya “mengakali” peraturan batasan maksimal kerja 20 jam di Australia.😦 Sedih saya (meski sekali lagi bukan hak saya untuk mencampuri urusan orang lain) karena profil besar dia tiba2 hancur di mata saya, tiba-tiba saya melihat dia seperti kebanyakan student yang lupa akan Janji Utamanya saat dia meminta beasiswa kepada Negaranya atau kepada Negara Australia. Bukan lagi bicara bagaimana memanage waktu untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana mengakali aturan baku demi mencari uang meski isteri telah bekerja pu hari Sabtu. Profil pemimpin itu menjadi blur sekarang…dan tanpa saya sadari respect saya kepadanya semakin turun…dan akhirnya saya bisa membayangkan bagaimana perubahan sikap saya dalam berinteraksi dengannya nanti.

Saya hanyalah orang yang suka mempelajari perubahan sikap seseorang, mengevaluasi diri sendiri dan bagaimana seseorang bertingkah laku. Di sini saya menyadari dan diberi ilmu oleh Alloh, bagaimanapun juga saya harus hati-hati dalam berbicara, berkata-kata dalam lisan maupun tulisan khususnya saat kata-kata saya ini muncul di ranah publik. Karena setiap orang meyakini, bahwa Teko berisi Teh pasti akan mengeluarkan Teh, Teko berisi Kopi pasti akan mengeluarkan Kopi, dan Teko berisi air putih pasti akan mengeluarkan air putih. Manusia lain akan menilai seseorang dari apa yang orang lain katakan atau tuliskan, karena setiap kita meyakini bahwa apa yang di”katakan” seseorang adalah representasi diri internal & eksternal orang tersebut. Dan “gawat” nya persepsi-persepsi yg mungkin banyak subjective nya ini akan membangun Attitude seseorang kepada kita. Dan attitude seseorang kepada kita ini pasti akan mempengaruhi sikapnya kepada kita. Di sini akhirnya saya/kita tidak bisa menganggap sepele “profil” diri kita.

Saya ingin menjadi Diri Sendiri…tapi saya juga tidak perlu menunjukkan semua hal tentang diri saya (sampai aib-aib saya) ke orang lain. Saya bertindak seperti apa yang saya yakini, tetapi saya tidak perlu selalu menunjukkan atau membicarakan apa yang saya yakini. Tidak setiap pertanyaan harus kita jawab dengan kata-kata, jika kita ingin kita bisa menjawabnya dengan sesuatu yang lebih: tulisan atau karya. Berkatalah jika saya yakin ini positif dan bermanfaat bagi saya sendiri dan orang lain, atau diam karena diam lebih aman untuk mencegah dosa dan menjaga diri kita.

Siapa model yang bagus untuk manajemen diri ini? : Anas Urbaningrum misalnya. Persepsi yang kita tangkap adalah cerdas, rendah hati, santun, muda, visioner.

Tidak perlu menceritakan hal-hal yang bisa jadi tidak sesuai dengan harapan orang lain. Cukup diri kita saja yang tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: