Why Should NOT DUNIA Oriented?: DUNIA mestinya menjadi LADANG AMAL AKHIRAT!

I. Tidaklah Layak kita menganggap Dunia ini segalanya!!

karena Sungguh HIDUP kita ini HANYA SINGKAT, Waktu Terbang Hilang begitu Cepat, Uban & Keriput begitu cepat hinggap Bertambah, Tubuh Jasad & organ didalamnya kian Melemah, Penyakit semakin Mudah Hinggap…dan akhirnya Panggilan Liang Kubur tidak bisa lagi kita hindari.

Saat Jasad ini tiada lagi bertenaga, saat roh kita meninggalkannya..pada saat itu barulah kita tersadar bahwa Dunia yang kita kumpulkan sama sekali tidak ada gunanya..Harta yang kita kumpulkan mestinya menjadi modal amalan kita saat kematian kita tiba.
“Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang yang asing dan seorang pengembara.” (HR. Bukhari).

“Dan persiapkanlah dirimu sebagai ahli kubur”. (HR Turmudzi)

“Dunia adalah penjaranya seorang mukmin dan surganya orang kafir.”(HR Muslim).

“Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan ibarat seseorang di antara kalian yang memasukkan jari-jemarinya ke dalam lautan samudera, maka lihatlah apa yang diperoleh darinya.” (HR Muslim).

“Apakah urusanku dengan dunia ini, sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ibarat seorang pengembara yang sedang tidur di bawah naungan pohon pada hari yang panas, kemudian beristirahat lalu meninggalkannya.” (HR Turmudzi dan Ahmad dan haditsnya Shohih)

“Zuhudlah engkau di dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah engkau terhadap apa yang dimiliki manusia niscaya mereka mencintaimu.” (HR Ibnu Majah dan Albani menshohihkannya).

“Kiamat telah dekat, dan tidaklah bertambah kecuali manusia semakin rakus terhadap dunia, dan tidak bertambah melainkan mereka semakin jauh dari Allah.” (HR Hakim dan Albani menghasankannya).
**

Dunia ~ Lebih Hina dari Bangkai Anak Kambing Cacat

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah pasar sementara sahabat-sahabat berada di sekitarnya, beliau melewati bangkai seekor anak kambing yang cacat telinganya. Beliau memegang telinga bangkai haiwan tersebut, lalu berkata:

أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Siapa di antara kalian ingin memiliki bangkai anak kambing ini dengan membayar satu dirham?”

“Kami tidak ingin memilikinya walau dengan membayar sedikit, kerana apa yang akan kami perbuat dengannya?” jawab mereka yang ditanya.

Beliau kembali mengulangi pertanyaannya, “Apakah kalian ingin bangkai anak kambing ini jadi milik kalian?”

“Demi Allah, seandainya pun haiwan ini masih hidup, ia cacat, telinganya kecil, apatah lagi ia sudah menjadi bangkai!” jawab mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka demi Allah, sungguh dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” [HR Muslim]

*******************************************************

II. Hati-Hati, Jangan terhenti Melaksanakan AMALAN AKHERAT hanya untuk Mengharap Dunia!!!

Di antara bahaya besar yang bisa menimpa seorang hamba adalah beramal shalih dengan harapan untuk mendapat dunia. Ini adalah kesyirikan yang bisa menghilangkan kesempurnaan tauhid dan menghapuskan amal. Ini lebih berbahaya daripada riya’. Kalau riya’, berharap pujian orang dalam amal namun munculnya jarang-jarang. Berbeda dengan orang yang niatnya memang untuk dunia, atau disebut materialistik, seluruh amal dan perbuatannya didominasi harapan untuk kebaikan dan kesejahteraan dunianya, tidak ada harapan untuk mendapatkan ridla Allah dan kebaikan di akhirat.

Beramal shalih dengan harapan untuk mendapat dunia adalah kesyirikan yang bisa menghilangkan kesempurnaan tauhid dan menghapuskan amal.

Mengenai hal ini, Allah menerangkan dalam firman-Nya:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ  أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’: 18)

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah: 200)

Dari Abi Hurairah radliyallah ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

مَنْ تعلَّم عِلماً مِمَّا يُبتَغى به وجهُ الله ، لا يتعلَّمُه إلاَّ ليُصيبَ بهِ عَرَضاً من الدُّنيا ، لم يَجِدْ عَرْفَ الجنَّة يومَ القيامَةِ

Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya dia cari untuk mengharapkan wajah Allah ta’ala, akan tetapi dia mencari ilmu supaya mendapatkan bagian dari dunia maka dia tidak akan mendapatkan wanginya surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Dan diriwayatkan oleh at Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersadba;

مَنْ طَلَب العلمَ ليُمارِي به السُّفهَاء ، أو يُجاري به العُلَماء ، أو يَصرِفَ به وجُوهَ النَّاسِ إليه ، أدخله الله النَّار

Barang siapa yang menuntut ilmu untuk membantah para ulama’, menyombongkan diri di hadapan orang-orang yang bodoh, atau supaya pandangan manusia tertuju padanya, maka Allah Ta’ala akan memasukkannya ke dalam neraka.

مَنْ كانتِ الدُّنيا همَّه فرّق الله عليه أمره ، وجَعَلَ فقرَه بين عينيه ، ولم يأتِهِ من الدُّنيا إلا ما كُتِبَ له، ومَنْ كَانَتِ الآخرةُ نيَّته جمَعَ الله له أمرَه ، وجعل غِناه في قلبِه، وأتته الدُّنيا وهي راغمةٌ

Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai puncak niatannya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran menghantui dirinya, sedangkan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan sekedar apa yang telah ditetapkan. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat itu niatnya, niscaya Allah menghimpunkan segala urusannya serta menciptakan rasa cukup dalam hatinya sementara dunia datang tunduk kepadanya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Zaid bin Tsabit)

Macam-macam amal untuk dunia

Beramal untuk dunia ada beragam bentuk. Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah, pernah menyebutkan 4 macam bentuk yang dinukil dari ulama salaf, yaitu:

  • Pertama, amal shalih yang biasanya dikerjakan orang untuk mengharapkan pahala dari Allah seperti shadaqah, shalat, membantu yang lain, menolong orang yang didzalimi dan amal-amal lainnya yang biasa dikerjakan atau ditinggalkan orang karena Allah semata, namun dia tidak berharap pahala akhirat, harapannya hanya agar Allah menjaga hartanya, memperbanyaknya, atau agar menjaga istri dan keluarganya. Dia tidak berharap agar dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka. Orang seperti ini akan mendapatkan balasan di dunianya sementara di akhirat tidak memperoleh apa-apa kecuali siksa. Demikian yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallah ‘anhuma.

Dia tidak berharap agar dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka. Orang seperti ini akan mendapatkan balasan di dunianya sementara di akhirat tidak memperoleh apa-apa kecuali siksa.

  • Kedua, melakukan amal shalih dengan harapan agar dilihat dan dipuji orang, tidak berharap balasan di akhirat. Ini lebih berbahaya dan lebih besar dosanya daripada yang pertama. Hal ini diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah.
  • Ketiga, beramal shalih dengan harapan dapat harta, seperti orang yang menjadi badal haji dengan harapan dapat bayaran, dia tidak berharap ridla Allah dan negeri akhirat. Contoh lainnya, orang yang berhijrah agar dapat dunia, berjihad agar dapat ghanimah, belajar agama agar dapat ijazah dan penghormatan tanpa harapan mendapat ridla Allah, atau belajar Al Qur’an dan rajin berjamaah karena tugasnya sebagai pengurus masjid. Sementara harapan atas pahala akhirat tidak ada dalam dirinya.
  • Keempat, melaksanakan ketaatan dengan ikhlas untuk Allah semata, Dzat yang tidak memiliki sekutu, tapi dia melakukan sesuatu yang menjadikannya kufur dan keluar dari Islam. Seperti orang yang melakukan salah satu dari pembatal keislaman. Hal itu sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas radliyallah ‘anhu.

*************************************************************************

III. Lalu Bagaimana Semestinya??

Luruskan NIAT setiap saat!

Innama a’malu Binniat…Sesungguhnya nilai setiap amal tergantung dari NIATnya

NIATKAN setiap perbuatan kita BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM:
* hanya untuk Alloh Semata,
* Mengharap Ridlo/Cinta Alloh,
* Memohon dicatat Amalan Kebaikan dan Balasan di Alam Kubur dan Akherat (Syurga), diampuni dosanya
* Memohon diMudahkan/dilapangkan Akherat, Alam Kubur, & Dunia & dapat memaksimalkan mungkin Dunia untuk Ladang Amalan Manfaat untuk Akherat

Niat yang baik bisa menjadikan amal yang mubah diberkahi oleh Allah dan pelakunya mendapat pahala. Seperti orang yang menunaikan nafkah bagi keluarganya, dia akan mendapat pahala jika meniatkannya untuk Allah dan berharap pahala dari-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ

Jika seseorang memberi nafkah kepada keluarganya dengan berharap pahala dari Allah, maka nafkah tersebut terhitung shadaqah.” (HR. Bukhari)

الْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِهِ

Seorang mukmin bisa mendapat pahala dari segala sesuatu (dengan niat yg baik), hingga suapan yang ia masukkan ke mulut istrinya.” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dihasankan oleh Al-Arna’uth)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: