Memulai Hidup BERJAUHAN dengan Keluarga

July 6, 2010 jam 14 ..Saat tangan ini memutar kunci unit ku di Adelaide, saat pintu terbuka dan kaki ini melangkah masuk………………..SEPI……………tak ada lagi canda anak-anak isteriku, tak ada lagi isteriku di dapur, tidur, atau belajar di kamar…tak ada lagi teriakan riang “daddy!!” dari anakku Makna si Nonong Cedhal itu…tak ada lagi pelukan manja Mulia anakku yang cerdas. …Unit dengan 2 kamar ini, terasa terlalu SEPI untukku….terlalu LUAS bagiku. BEDA!

Everything is DIFFERENT!…batinku menangis, sedih menekan perasaanku yang selalu ingin bersama anak isteriku.

Malam hari dan seminggu berikutnya…saat ku pilih dan kukemasi mainan anak-anakku, hasil karya-karya sekolahnya, buku-buku kerja isteriku…kembali airmata kangen ini menetes😦

Ndak papa, inilah hidup…setidaknya semua skenario ini memang kami pilih karena ini memang MIMPI KELUARGA kami. Mimpi kami bahwa isteri saya (dan ibu anak2 saya) dapat meneruskan Spesialisnya, apalagi Spesialis Obsgyn yang memang sangat sulit dimasuki dan sepertinya unbelievable terbayarkan jika Alloh tidak memberikan kami rizqi beasiswa ke Australia. Alhamdulillaaahirrobbilalamiin…itulah kata yang harus lebih sering bibir ini ucapkan.

Isteriku di Indonesia sana, berjuang belajar menjadi seorang Dokter Spesialis Obsgyn yang mudah2an bersih dalam niat dan ikhtiar, menata niat menjadi seorang Dokter yang berorientasi Manfaat BUKAN berorientasi kaya. Apakah mudah?? jika anda melihat penghasilan kami, dan kondisi kami sebagai keluarga baru yang masih ngontrak di Surabaya ini rasanya sangat sulit menyingkirkan obsesi kaya😉 ..yach, tapi kami memang harus senantiasa menata hati dan menata doa karena hidup sekali dan tidak ada yang dibawa di liang kubur selain amal.

Isteriku di Indonesia kini setiap hari berjuang menjaga dan merawat anak-anak kami. Alhamdulillaaah, keputusan kami menyekolahkan Mulia dan Makna di SD dan TK Islam modern rasanya sebuah keputusan yang tepat meski pada awalnya kami benar2 ‘ketar-ketir’ dengan biaya masuk dan biaya bulanan yang Lebih Mahal daripada biaya seorang mahasiswa. Tapi saat ini yang saya sadari, di Indonesia sistem pendidikan dan jam kerja orang tua memaksa setiap orang tua termasuk kami Menyerahkan Sepenuhnya pendidikan anak ke sekolah. Dengan jam berangkat kantor pagi dan pulang kerja Sore bahkan sering malam, rasanya tidak ada waktu yang disisakan buat ‘amanah Alloh’ itu. Lalu bagaimana pertanggung jawaban kita kelak di akherat? Lalu bagaimana kita benar-benar memanfaatkan Gold Time Kecerdasan IQ, EQ, & SQ anak di usia 4-12 tahun? apakah akan saya lewatkan begitu saja hanya karena pertimbangan biaya? apakah akan saya biarkan hati ‘cerdas’ anak saya Kosong Tidak Terisi? Apakah hanya akan saya isi otak-otak anak saya hanya dengan pengetahuan akademik saja??…TIDAK!…Alhamdulillaah, Alloh memberikan kami keberanian untuk rela bekerja lebih keras asalkan hati, jiwa, dan akal anak kami terisi dengan nilai2 luhur, aqidah, dan pengetahuan. Uang bisa dicari, waktu terlewat tidak mungkin diulang apalagi kecerdasan!

Minggu-minggu ini, Alhamdulillaah teknologi telah mendekatkan kami meski jarak tetap sangat jauh antara Surabaya dan Adelaide. Hampir tiap malam, kami bisa bertatapan, anak-anak saya bisa melihat Bapaknya, Makna bisa bercanda dengan daddynya, Mulia bisa laporan, cerita, bahkan mengaji dengan daddynya…Ya Allooooh, Alhamdulillaaah! Satu yang masih sulit bagi saya, saat isteri ingin berkeluh kesah tentang apapun, sering hati ini emosi karena ingin membantu namun stress tidak bisa berbuat apapun😦 Namun Alhamdulillaaah, saya yakin pasti ada jalan: di mana ada orang disitu ada bantuan🙂 mendingan keluar biaya untuk assistancy daripada menghemat banget namun bikin stress. As long as Senyum itu mengembang di bibir isteri saya, Senyum itu juga mengembang di Hati saya ….nggak tahu kenapa?🙂

BERJAUHAN DENGAN KELUARGA memang BEDA!….namun Alhamdulillaaah saya senantiasa berusaha keras meyakini inilah Takdir Indah Alloh untuk saya: diakhir 1,5 tahun beasiswa saya insyaAlloh Alloh memberikan saya kesempatan untuk FOCUS menyelesaikan PhD saya mencapai target CUMLAUDE (amiiin)…dan isteri memulai awal spesialisnya dengan kelapangan biaya masuk, perbulan, & tuition fee-nya. Setidaknya hingga 1,5 tahun kedepan insyaAlloh biaya telah ada sumbernya, kini yang HARUS saya siapkan adalah bagaimana sepulang PhD nanti kami bisa menyelesaikan biaya 2,5 tahun sisa Spesialis saya termasuk 3 tahun sewa rumah kami🙂

Di sini JANGAN MAIN LOGIKA!…Saya lagi seneng membaca dan menandai rahasia-rahasia RIZQI Alloh yang sangat sering sekali Tidak Terbatasi Logika Manusia. Jadi yang bisa saya lakukan saat ini sebagai Makhluk Alloh hanyalah Menganalisis situasi, Merencanakan Solution Plans, Focus ke Misi Utama saya di sini (S3), Menyiapkan “modal immediate Blast-Off saya” selesai PhD nanti, dan “berusaha maksimal” memenuhi nadzar & kebutuhan keluarga. Bismillaaahirrohmaanirrohiiim..mohon ridlo, kemudahan, kesehatan, dan kelapanganmu ya Alloh….semoga di kemudian hari nanti kami mampu membuktikan kebenaran hypothesis kami bahwa ILMU pasti membuka pintu Peluang dan Rizqi Dunia bahkan Akherat…amiin

3 Responses

  1. Semoga bisa tercapai semua rencana dan berkumpul lagi, memang rasanya gak enak pisah dari keluarga😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: