Saat Hatimu tak Bersama Jasadmu

Pengalaman ini saya alami berkali-kali, dimana hati saya menolak sesuatu namun situasi, budaya, dan orang lain ‘memaksa’ saya untuk melakukannya.

Hati yang belum ikhlas memberi

Sore ini saat saya akan kembali ke Australia (Senin, 5 July 2010), saat saya memberi uang tips taxi yang berlebihan (Rp………baca “Belum Ikhlas”) di mana sesaat saya meninggalkan taxi saya merasa ada yang salah, jiwa rasanya masih tertinggal di dalam taxi. Hingga saat masuk ke bandara, saat petugas perhubungan mengingatkan saya untuk mengikatkan tas saya sebelum check in, yang ada di dalam pikiran saya hanyalah su’udzon bahwa saya akan keluar duwit tak terduga lagi! …hingga akhirnya diberitahu petugas check in Garuda bahwa fasilitas tali tas tersebut Wajib dan Gratis untuk setiap penumpang Garuda.

Hati yang tidak mau ‘diatur aja’

Belum pulih jiwa saya memasuki tubuh saya, kembali situasi ‘pengusir’ hati saya terjadi. Tas check in saya tertimbang seberat 23,7 kg padahal batas maksimal hanya 20 kg. Dengan santainya petugas check in menanyakan,” ini gimana Pak, mau ‘diatur aja’?” tanyanya. Kembali situasi ini mengusir hati saya. “Diatur” = membayar uang tidak resmi. Padahal saya sudah berniat mengeluarkan barang2 tertentu dari bagasi dan memindahkannya ke tas punggung saya. Tapi godaan syetan, kembali menggoda “udaaah daripada repot diatur aja”, saran petugas tersebut. Mengiyakan saya sambil mencari uang Rp 30.000 untuk pajak airport. “Sial! Nggak ada uang pas” umpat saya dalam hati, dengan terpaksa saya berikan uang Rp50.000an. Dengan ragu-ragu petugas tersebut mengembalikan kembalian uang Rp 20.000 dengan bertanya ,”begini Pak?” Saya ngerti apa maksudnya, rasanya dia berharap uang Rp20.000 tidak semestinya saya minta 🙂 Tapi entahlah, gabungan antara Penolakan hati saya terhadap praktik korupsi sekaligus hati ‘tidak ikhlas’ saya yang belum selesai saya tata menyebabkan saya kembali menolak memberi. Hati saya kembali galau.

Sembunyi di kamar mandi menghindari “Bapak Pungli”

Kejadian ini mengingatkan saya akan peristiwa ‘pelarian diri’ saya ke kamar mandi hanya untuk menolak memberi pungli. Saat itu saat saya melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai syarat berkas CPNS saya di RS Sardjito, selesai pemeriksaan tes kesehatan jiwa dan narkotika, bergegas saya menuju laboratorium untuk tes darah. Sayang, seperti biasa Rumah Sakit Plat Merah ini baru aja jam menunjuk pukul 13:00 pelayanan sudah ditutup. Dengan kecewa saya meninggalkan lab. Belum begitu jauh dari pintu, berpapasan saya dengan petugas administrasi bagian tes kesehatan jiwa yang baru saja saya jalani. “Lho udah tutup?”, tanya dia. “Sini suratnya saya masukkan!” dengan bergegas dia ambil surat ditangan saya dan menuju dia ke lab. Saya yang berperasangka baik, menerima dan mengikuti saja kemana dia pergi. “Mmm baikan banget Bapak ini, mau mbantu client!” pikir saya. Belum begitu lama hudznudzon saya hinggap dihati, dengan pelan Bapak tadi berkata, “nanti ngasih ‘uang rokok’ saja, bukan buat saya, tapi buat petugas lab!”, basa-basinya. “Ya Allooooh, korupsi lagi!!!” hati saya berteriak menolak. Apalagi saat kejadian berikutnya menunjukkan ternyata form saya hanya bisa dimasukkan, sedangkan hasil lab tetap menuntut saya untuk datang lagi sendiri esok harinya. “Sama saja saya usaha sendiri besok pagi-pagi!” teriak hati saya. Nah situasi double kejadian yang membuat hati saya menolak ini kembali membuat Hati saya ‘terusir’. Saya merasa hampa, saya merasa linglung!…saya tidak mau membayat pungli, namun situasi telah membuat hati saya ‘tidak enak’ untuk tidak memberi.Lama hati saya berdebat, antara hati yang terus menolak dan sisi lain hati saya yang tidak enak untuk memberi. Padahal saya benar-benar menyadari dalam situasi semacam ini, saya selalu berusaha keras untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak benar-benar dimengerti dan dihadiri oleh hati saya. Sementara itu Bapak Petugas “pungli” itu masih menunggu di kursi pintu keluar. Dalam situasi seperti ini, kembali kebingungan saya menuntun saya untuk melakukan hal yang menggelikan. Saya tidak mau memberi pungli!….dan saya tidak ingin kejadian ini terjadi dan berulang ke orang lain. Jika saya memberi, maka Bapak ini akan kembali mengulanginya dan mengulanginya ke orang lain. Saya ingin memenuhi penolakan hati sekaligus memberi ‘pelajaran’ kepada Bapak tadi. Hasilnya: saya sembunyi di kamar mandi!🙂 Lama saya di dalam kamar mandi sesekali keluar memastikan “uji kesabaran” antara saya dengan “Bapak Pungli” tadi. Mengumpat saya dalam hati selama di kamar mandi karena bersembunyi bukanlah pilihan jiwa saya (apalagi bersembunyi di kamar mandi)🙂. Tapi mental saya memang tidak pernah saya latih mengatakan “Tidak” secara verbal untuk menyatakan penolakan saya terhadap korupsi dan pungli. Hasilnya saya menyatakan ‘Tidak’ dengan cara sembunyi dan alhamdulillaah akhirnya “Bapak Pungli” tadi kelelahan menunggu punglinya dan berlalu menghilang.

Pungli Kuli Pengiriman Barang

Gilaaaa! Korupsi dan pungli memang sudah menjadi budaya di bangsa ini. Diembeli dengan terlalu banyak istilah “uang rokok”, “uang beli es”, “uang lelah”, “suka rela memberinya” dll. Intinya semuanya PUNGLI!!! Meminta uang tambahan yang nggak resmi. Intinya semuanya me’nodong’ hati yang tidak enak untuk tidak berterima kasih.
Kejadian ini terjadi saat saya mengirim motor dari Yogya ke Surabaya 2 kali. Saat pertama, saya sendiri yang mengambilnya. Saya sudah membayar biaya pengiriman yang sudah termasuk mahal untuk memastikan tidak ada lagi uang tambahan, termasuk biaya untuk membungkus motor. Setelah sampai di stasiun kota,  2orang kuli melepas semua plastic motor saya dan memasangkan spion saya, yang seharusnya memang sudah menjadi tanggung jawab perusahaan pengiriman motor saya. Diakhir kerja, mereka ‘menodong’ “anda ngasih kuli terserah!”…”Tidak!!!” jerit hati saya. Bukan karena pelit, tapi dari dulu saya selalu menolak ekonomi biaya tinggi. Bagi saya biaya semahal apapaun tidak masalah selama semua hal jelas, transparan, dan tidak ada biaya2 tambahan yang nggak jelas. Bukan hanya pejabat, kuli pun sudah membudayakan budaya pungli ini. Dengan berat, finally saya pun memberi, kembali tidak dengan hati. Kalaulah dengan hati, hati itu yang saya berusaha keras untuk menata dan menghadirkannya agar pengeluaran itu tidak mubadzir tidak menjadi amal. Isteri saya lebih parah lagi: lewat perusahaan lain yang lebih murah ternyata pungli kulinya 2x lipat dan minta uang pasti lagi (bukan lagi suka rela).

Nah kejadian pungutan pungli kuli di Surabaya ini terjadi lagi, saat Kakek anak saya mengirim sepeda ke rumah, kebetulan hanya pembantu yang dirumah dan mereka meminta uang ‘jajan es’ ke pembantu saya. Jelas pembantu saya mengatakan ‘saya tidak ditinggali’🙂 Waaaah mumet saya! La wong biasanya pengiriman meubel aja selalu gratis, lha ini JASA PENGIRIMAN BARANG harusnya kan memang biaya yang sudah dibayarkan sesuai kontrak mencakup semua biaya sampai rumah. Eeee…dongkol, kuli tadi masih SMS isteri saya menyatakan ‘pelit’ karena tidak meninggali uang ‘jajan es’ ke pembantu saya. Ya…kami aja juga tidak tahu kapan tepatnya mereka akan kirim sepeda, apalagi ‘ditodong’ uang pungli tadi.

HIKMAH:

Pengalaman-pengalaman dengan penolakan hati menyadarkan saya betapa ‘berbahaya’nya saat hati tidak bersama jasad saya. Karena yang ada adalah Kosong, Linglung….hasilnya….situasi ini sangat mudah untuk di’hipnotis’, dituntun atau diciderai orang lain.

Yang kedua, pengalaman-pengalam ini Alhamdulillaah juga menyadarkan saya untuk senantiasa berusaha keras MENGHADIRKAN & MENGISI HATI!…caranya senantiasa Dzikir, Istighfar, dan Memanggil Alloh untuk menemani. Mohon ke Alloh untuk memberi Kekuatan, Kesehatan, & Kebugaran Hati & Fisik.

Yang ketiga, terkait dengan keikhlasan pengeluaran biaya tinggi: Tenang, Memprediksi (menyiapkan hati) pengeluaran, Mencari sumber penganti pengeluaran yang resmi  dan agendakan senantiasa memohon Alloh untuk dikaruniai “Kebebasan Finansial” dan “Kelimpahan rizqi hingga terasa sangat ringan untuk memberi” (dulu saya masih ingat kuncinya, sisihkan 2,5% dari setiap  rizqi yang Alloh karuniakan ke kita dalam amplop amal zakat/shodaqoh kita).

Yang ke-empat, jika saya tidak setuju Korupsi & Pungli, maka belajarlah bagaimana mensikapi praktik korupsi dan pungli yang masih banyak lagi akan saya temui di Negara saya yang sedang berbenah diri.

Bismillaaahirrohmaanirrohiim, mudah2an pengalaman2 ini menjadi hikmah perbaikan diri dan jiwa yang semakin menua ini. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: