Solusi oriented

washingLelah sepulang Annual General Meeting MIIAS kemarin membuatku ingin tiduran. Belum sempat tidur, saya lihat tetangga baru beyond unit mencoba-coba mesin cuci kami yang ada di public washing room. Wondering, mendingan saya jelaskan saat ini atau lain waktu atau lewat tulisan aja ya? Perasaan Indonesia dan Jawa saya masih saja sering menghalangi saya untuk berbicara apa adanya. Ah..mendingan sekaran aja daripada tertunda-tunda dan jadi masalah berkepanjangan.

Ragu-ragu saya melangkah ke unit dengan penghuni baru itu. Dua orang China menghuninya. Saya sapa, dia menjawab. “I am just wondering, are you looking for a washing room?” tanya saya sesopan mungkin. Mereka nggak mengerti maksud saya. “The washing machine in room D belongs to me, but the room is for public so I can help you if you want to buy a new washing machine?” Dua cewek china itu terperangah “What?!!”…“I have to buy my own washing machine?” tanya salah seorang wanita (yang muda) dengan nada emosi. Berkali-kali saya mencoba menjelaskan ke mereka sepelan mungkin bahwa yang ‘publik’ itu ruangannya, sedangkan washing machine nya beli sendiri-sendiri atau sharring kalo mau dengan cara bagi dua harga belinya. Itu yang selama ini disepakati dan berjalan di unit-unit ini. Masih saja, mereka nggak mau nerima. Malahan cewek china yang muda, dengan bahasa English yang (sorry) nggak jelas mencoba menyerang saya dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi “How long have you been here?”, “When did you move in?”, “How much you buy the machine?”, “Why…” , “How Come..?”…sampai akhirnya kesabaran saya sampai hampir habis, saya yang dari tadi meladeni pertanyaan-pertanyaan pribadi mereka finally dengan nada meninggi saya balik bertanya “WHAT’S YOUR PROBLEM!!!”…..Saya yang datang dengan baik-baik, dengan maksud menjelaskan semua nya sejak awal dan membantu dia jika butuh membeli atau mencari washing machine baru, bahkan membantu mereka memindahkan mesin mereka, malah di ‘serang’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang bernada ‘tidak percaya’.

Pelan..tenant yang lebih tua menenangkan saya dengan pertanyaan lainnya. Alhamdulillaah emosi saya mampu saya kendalikan🙂 “I know your situation…”bla-bla-bla saya jelaskan kalo saya ngerti mereka banyak keluar biaya untuk unit mereka, bahkan saya ceritakan bagaimana teman saya yang tinggal di unit itu dipotong 300$ uang jaminan oleh agent rumah itu tanpa penjelasan apapun, belum lagi harga sewa unit itu yang paling mahal di lingkungan unit-unit kami. Pelan-pelan…akhirnya suasana mereda. Butuh waktu lama untuk mau mengerti siapa saya, apa maksud kedatangan saya, dan mengapa saya menjelaskan ini semua. Mungkin kalo saya orang western, udah dari awal sejak mereka make’ mesin cuci saya mereka bakalan kena damprat! Tapi nggak papa…yanch banyak hikmah yang saya dapati:

1. Dalam hidup, selalu siap ada situasi-situasi yang tidak bisa tidak kita harus berhadapan dengan konflik, menjalaninya, dan finally mencari solusi terbaiknya.

2. Semakin saya memahami bagaimana Typology Orang-orang Asia seperti saya dan mereka yang senantiasa menghadapi masalah dengan pertanyaan “Why?”, “Who are you” , “Who false?”….belajar dari hikmah dan ilmu yang diterima isteri saya, katanya Supervisor Western di tempatnya bekerja selalu menghadapi masalah dengan pertanyaan “How is going?” (tanya khabar) dan “What do you want then?” Sebuah typical problem solving berorientasi pada PEMECAHAN MASALAH bukan sekedar membuka luka dan menambah masalah.

Sebuah nasehat yang semoga saya ingat: “Why?” adalah pertanyaan yang masuk dalam ruang pribadi orang lain dan dengan basis ‘tidak percaya’, jauh lebih bijaksana kita bertanya dengan “What happens?” dan mengakomodasi kemauan client/teman kita dengan bertanya “What do you want?

Itulah mengapa, kini saya bisa mengerti setiap kali seseorang di Western Countries (termasuk disini) pamit pergi dan mengatakan “I got to go” maka semua orang pasti percaya dan mempersilahkannya meski dia siswa yang minta ijin ke dosennya. Saya juga semakin mengerti Mengapa kalimat yang sama pasti akan diikuti pertanyaan-pertanyaan pribadi jika kalimat itu saya ungkapkan di Indonesia, misalkan saya bilang ke teman “Sorry saya harus pergi”..pasti teman saya akan bertanya “Kemana?”..”Ngapain?”…”Naik apa?”…”Ada apa toh?”..”Kenapa?”…wah wis mumet. Gimana ya cara bilang yang sopan “Mau ngapain itu bukan urusanmu!”🙂 …

Setidaknya saya belajar untuk memanage diri dalam bertanya dan berlatih untuk problem solving, Alhamdulillaah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: