Kebebasan MIMPI

mimpiMinggu ini adalah minggu terakhir isteri saya bekerja untuk Disability SA, sebuah unit pemerintah South Australia. ‘Pegawai Negeri’ istilahnya kalo di Indonesia, sebuah pekerjaan yang cukup lumayan dan sulit didapat meski oleh orang Australia sendiri. Bahkan bukan hanya sebagai staf, namun langsung pada level Coordinator, sebuah posisi dan pengalaman yang lama diinginkan isteri saya sejak lama.

Beda dengan di Indonesia, pegawai negeri di sini menggunakan sistem kontrak. Hanya 2 bulan kontrak saja. Namun minggu kemarin, supervisornya telah bertanya apakah dia ingin meneruskan kontrak atau berhenti. Sebuah pertanyaan yang cukup sulit dijawab? Why??

Saya yakin, untuk sebagian besar teman, terutama mereka yang melihat hanya dari sisi materi, maka pekerjaan sebagai ‘pegawai negeri’ di departement Australia sangatlah prestisius dan menggiurkan. Namun sekali lagi, Alhamdulillaah doa kami senantiasa kami panjatkan kepada Alloh (mengutip doa Umar Bin Khatab) “Ya Alloh mohon berkenan karuniakan dunia di tangan hamba, bukan di hati hamba”. Minggu ini, isteri saya memilih kembali bekerja part time di University sabagai Peneliti dan TIDAK MENERUSKAN kontrak kerja full-timenya dengan Disability SA. Sebuah keputusan yang berani.

Alhamdulillah, kami senantiasa diberikan kelapangan untuk mampu memilih dan mengambil berbagai keputusan hidup berdasarkan mimpi dan perencanaan ke depan, bukan berdasarkan keterpaksaan dan keterbatasan. Dua bulan lalu, saat isteri saya diterima di pekerjaan ini, hal yang sangat luar biasa adalah Professor Judith, supervisor kerja dia di School of Medicine tetap mengharap dia untuk kembali sebagai researcher setelah kontrak di Disability SA ini berakhir. Kini, tantangan pilihan takdir di depan mata: UANG atau PELUANG???

Meski hanya sebuah pekerjaan part time, namun bekerja sebagai peneliti bersama seorang expert sekelas Internasional seperti Professor Judith adalah anugerah yang luar biasa. Lewat rahmat itulah isteri saya mampu belajar bekerja sama dengan peneliti-peneliti luar negeri untuk project skala nasional. Lewat rahmat pekerjaan inilah, isteri saya mampu bertemu langsung dengan Menteri Lingkungan Hidup Australia dan tokoh-tokoh nasional lainnya disini. Lewat peluang inilah, insyaAlloh minggu depan isteri saya harus terbang ke Canbera melaporkan hasil penelitiannya. Meski pekerjaan ini hanyalah part time, yang tentu dalam hal uang lebih sedikit daripada pekerjaan sebagai pegawai negeri di SA, namun di sini isteri saya bisa BERMIMPI.

Mungkin anda tidak setuju dengan saya: buat apa BERMIMPI jika tetap ada sisi ketidakpastian, mengapa tidak memilih uang saja yang jelas pasti ada di depan mata. Sebuah logika awam yang sering saya temui. Logika inilah yang dulu pernah ditawarkan kepada saya saat saya memilih untuk Merdeka Bermimpi 1 tahun lalu. “Tony, mengapa kamu memilih KETIDAK-PASTIAN sementara ada Kepastian di depan mata?”…”Jaman sekarang susah cari kerja, susah cari duwit, mengapa kamu memilih mengambil resiko tidak digaji, mengundurkan diri dan tidak punya pekerjaan sama sekali, sementara ada pilihan lain untuk pekerjaan pasti meski ‘tidak bisa bermimpi’ lagi?”
TIDAK!…bagi kami MIMPI adalah energi hidup kami, Mimpi kami yang mampu mendorong kami untuk selalu bangun pagi, berdoa, berusaha setiap hari. Mimpi dan kebebasan kami dalam bermimpi jelas tidak dapat diikat dan diganti dengan apapun.

Ketika kami memilih sebuah pekerjaan, 1 hal pasti yang kami pertimbangkan: apakah organisasi ini dan sistem ini mengakomodasi kami untuk terus BERMIMPI? jika jawabnya tidak, pasti tidak kami jalani. Namun jika IYA, maka kami mengambilnya meski gaji bukan pertimbangan utama. Sekali lagi itu hal yang beberapa teman kami tidak bisa mengerti. Alhamdulillaah, kami dapat menikmati rahmat hidup ini karena senantiasa boleh terus bermimpi.

Mimpi isteri saya terdekat setidaknya ada 2: Spesialist Jantung atau S3 di luar negeri. Ya Alloh, semuanya kami pasrahkan kepadaMu, karena pasti kami tidak tahu mana yang terbaik untuk kami dan keluarga kami. Yang pasti yang kami lakukan adalah memenuhi prasyarat-prasyarat “hukum alam” untuk mencapai mimpi-mimpi itu. Biarlah nanti sepulang kami ke Indonesia, kami mungkin masih tinggal di rumah kontrakan🙂 namun setidaknya kami tahu bahwa kami Engkau cukupi ya Alloh dan kami mampu berikhtiar dan meraih mimpi-mimpi kami.

Hayo..milih mana UANG atau PELUANG/MIMPI? …Hingga kini saya senantiasa membuktikan bahwa Visi, Mimpi, dan ILMU pastilah diikuti Uang; sedangkan orientasi UANG dan KEKUASAAN hanyalah diikuti Ketamakan, Kebencian, Kedengkian, Kedangkalan ilmu, dan Kesempitan Peluang. Insya Alloh mudah2an Alloh senantiasa menuntun kami untuk takdir terbaik kami dan kemanfaatan terbesar kami, amiin.

3 Responses

  1. luar biasa…sangat menggugah mas tony…

  2. luar biasa mas.. salam kenal.. blogwalking pagi yang inspiratif karena bertemu dengan blog ini..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: