Isteriku, ini perjalananmu juga…(1/2 Perjalanan & Pembelajaran Isteriku menemaniku)

walkKutulis cerita ini sekedar mengingat dan mensyukuri apa yang Alloh senantiasa limpahkan kepada keluarga kita, isteriku…(Semoga Alloh melindungi kami dari Riya’ dan menjadikan tulisan ini sebagai amalan kami, amiin)

Seperti telah kusampaikan dalam Category “Rahasia Beasiswa”, rizqi beasiswa Arab dan Australia yang Alloh karuniakan kepada saya rasanya tidak bisa dilepaskan dari cerita takdir beasiswa S2-ADS isteri saya. Saat itu, kami berdua bertekad bahwa setiap takdir Beasiswa adalah takdir Proses Bersama sebuah keluarga. Artinya, kami berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa bersama sebagai sebuah keluarga. Rizqi beasiswa bagi Bapak, adalah rizqi ‘beasiswa’ bagi Isteri dan anak, begitu juga sebaliknya. Semua anggota keluarga memiliki hak untuk menikmati rizqi Bapak atau Ibu nya tanpa harus mengalami jeda berpisah dan jeda kasih sayang dari Bapak Ibunya! Prinsip keluarga kami inilah yang melandasi saya mengambil keputusan mundur dari beasiswa Arab Saudi dan mengambil beasiswa Australia, meski banyak temen tidak menyetujuinya dengan berbagai sudut pandang yang berbeda. Mohon maaf, inilah prinsip dan cerita keluarga kami yang siap kami pertanggungjawabkan di dunia dan di akherat nanti.

Kini..di sini di Australia, 1,5 tahun lalu, Alhamdulillaah dengan sangat mudah dan lancar isteri dan 2 anak-anak ku menyusul menemaniku di sini. Luar biasanya, bahkan sebelum saya menginjakkan kaki di sini, Alloh telah “mempersiapkan” sebuah unit yang sangaaaat murah dan dekat dengan University lengkap dengan isi sekaligus mobilnya. Luarbiasanya lagi (ya Alloh!) Alloh telah ‘menyentuh’ si empunya sebelumnya untuk mengijinkan saya membayarnya dengan cara mencicil 2x, sebuah kemudahan pembayaran ‘take over’ yang hampir nggak pernah saya dengar sebelumnya mesti dengan temen Indonesia sendiri. Belum lagi Landlord-nya yang sedemikian baik dan percaya kepada kita. Masya Alloh, entah apakah yang telah saya lakukan? suwun sanget Gusti Alloh Engkau selalu memelihara kami.

1,5 tahun lalu..saat isteri saya datang pertama kali, sejak awal saya sudah menenangkannya: “Dik..di sini memang banyak peluang kerja di bidang Kesehatan, kamu-pun S2 dari sini juga (“Master of Health Services Management) apalagi kamu dokter juga. Tapi…pengalaman saya dulu sebagai spouse kamu nyadarin saya bahwa disini PENGALAMAN dan SERTIFIKASI SKILL adalah syarat utama memperoleh kerja, bukan pendidikan formal. Jadi…monggo jangan ngoyo2 nyari pekerjaan ideal, cari aja pekerjaan apapun, yang penting kamu dapat pekerjaan dan mental kamu tetap terjaga…InsyaAlloh, ntar pelan-pelan kamu cari pekerjaan yang lebih baik kalo udah dapet pengalaman. Terus jangan lupa doa, minta ke Alloh”

Bener…1 bulan lebih isteriku mencoba melamar kesana-kemari. Rutin, saya membelikan Advertiser-Career setiap Sabtu, terus apply lagi diminggu berikutnya. Antar sana antar sini buat wawancara…..1 bulan lebih isteriku belum juga dapat kerja. Stress..drop…nggak PD…ujung-ujungnya emosi dan mudah sedih (baca:nangis) rasanya ini tipologi wanita ya kalo lagi depresi🙂 (maaf bagi cewek yang mbaca). “Sudah Dik..lamar aja sembarang kerja sekarang, toh pemasukannya sama juga. Silahkan kerja apa aja, di Pabrik Jamur boleh, Cleaning boleh, Carer bagus…monggo yang terpenting BUKAN uang tapi MENTAL dan KEYAKINAN DIRI kamu sayank” beberapa kali saya mencoba menjaga semangat dan keyakinan dirinya. “Tapi saya khan dokter dan Master disini?” …rasanya dia semakin nggak percaya diri dan semakin BT karena musti rutin hanya berkutat dirumah ngurusi urusan rumah saja. Hayo jangan diprotes lho ya…tiap orang khan beda2 dan saya insyaAlloh mengenal isteri saya, dia butuh kerja bukan hanya masalah uang tapi masalah keyakinan diri, eksistensi, kebutuhan belajar, dan berinteraksi. Kembali saya menasehati, “Dik…tenang aja, ambil aja kerja apapun disini. di sini (Australia) khan nggak kaya’ di Indonesia (maaf) enaknya disini nggak ada orang yang ngomongin orang lain. Jadi kalo kamu dokter+S2 sini terus kerja jadi cleaner, santai aja..emang gua pikirin? gitu mikirnya..toh uangnya juga gedhe..lagian misal ada orang Indonesia yang komentar, toh mereka khan cuman bisanya ngomongin orang aja nggak ngasih duwit!🙂 …kalo orang Ausie sendiripun cuek kok.”….”Dik, yang jauh lebih penting dari itu semua, dan yang membedakan kamu dengan orang lain yang kerja ‘teknis’ selamanya adalah NIAT kamu. Coba mulai sekarang kamu niati ‘Ya Alloh, saya niati kerja cleaner atau pabrik ini untuk ibadah+njaga mental saya+nyari teman (interaksi sosial)+mbantu keuangan suami saya+STEP AWAL UNTUK PEKERJAAN YANG LEBIH BAIK BERIKUTNYA”.

Finally, isteriku bersedia melamar pekerjaan-pekerjaan teknis : Cleaner, Pabrik Jamur. Sekitar bulan ke-2 akhirnya dia diterima bekerja di pabrik Jamur. Bangun Pagi-Pagi, nyiapin lauk sendiri..sering dia ngomong sendiri “Childcare anak…childcare anaaak”🙂 menyemangati dirinya sendiri kalo dia harus bekerja untuk membantu saya membayar biaya childcare buat Mulia dan Makna yang memang besar sekali. Hari pertama kerja di pabrik, saya masih inget…saya harus siap menerima keluh kesah isteriku karena musti manjat-manjat, ndorong troli, disuruh-suruh, dimarah2i saat kerja mengambil jamur🙂 he..he..he.. saya bilang “Yank..itu masih belum seberapa, dulu waktu saya kerja di kebun wuah Supervisornya nggak pinter English jadinya kata-kata yang keluar cuman ‘Fuck!’..’Fuck!’..:) terus kalo hujan kehujanan, panas kepanasan, waktu kerjanya lebih lama..hayoo kamu masih enak kok”

Alhamdulillaaah..hanya sekitar seminggu, Alloh mengaruniakan rizqi kerja lainnya buat isteri saya: Carer. Paraplegic (kaya’nya salah dech tulisannya) sebuah Community-based Disable Carer mewawancarai isteri saya dan bersedia memperkerjakannya mesti belum punya certificate III. Allohu Akbar! karena setahu saya standardnya untuk dapat bekerja sebagai carer disini harus lulus Certificate III dan menghabiskan biaya sekitar 1500$ untuk 3 bulan belajar.

Alhamdulillaah..rizqi Alloh rasanya sedemikian dekat. Email isteri saya ke mantan Supervisornya: Professor Judith Dwer yang juga Head of School of Health di Flinders, dibales juga. Dengan bercerita kisah saya dan supervisor saya, Alhamdulillaah Alloh menggerakkan hati Prof. Judith untuk memberi kesempatan isteri saya dalam Proyek Research nya. Isteri saya, memperoleh another job sebagai “Researcher”! Ya Alloh..sebuah pekerjaan yang berada di atas ku dulu (dulu saya “Visiting Researcher” nggak dibayar cash hanya diberi fasilitas dan media publikasi, isteri saya dibayar per-jam musti hanya Part-time 20 jam/week) ..Allohu Akbar, Alhamdulillaaaah! Kini isteri saya memiliki 2 pekerjaan.

Perjalanan cerita rizqi Alloh rasanya terus berlanjut. Another agent carer memanggil isteri saya dan memperkerjakannya. Namun hanya 1 minggu isteriku bertahan, karena 3 pekerjaan rasanya sudah keterlaluan🙂 he..he..sebagai suami, apapun keinginannya saya biarin aja, toch semuanya sebagai proses perjalanan pribadinya🙂

Sekitar Desember 2008, rizqi yang luar biasa kembali hadir. Isteri saya diterima sebagai Carer di Nursing Home, sebuah pekerjaan yang cukup ‘keren’ untuk seorang carer karena persaingan yang cukup ketat dan rate gaji yang lebih lumayan (plus musti Certificate III, sekali lagi saat itu dia belum dapet certificat III hanya ngambil modul 1 terus stop). Sekitar 6 bulan sudah dia bekerja, hanya 3-4 kali shift aja dia mau terima. Nggak papa, yang penting dia enjoy aja…

Nah…finally, isteri saya beberapa kali cerita “Mas, saya masih penasaran pengin kerja sebagai MANAGER” ….mmm…🙂 …”Ya coba aja terus apply Dik sambil doa minta ke Alloh”. Lama berusaha, dan kita makin terbiasa menerima surat ‘Tidak Diterima’🙂 nggak papa…namanya juga usaha.

May 2009…rizqi Alloh itu datang juga. Department of Health- South Australia yakni Disable department memanggilnya untuk wawancara. June 15 – 2009 bulan ini! dia harus mulai bekerja full-time sebagai Coordinator untuk Disable People di Christy Beach (Alhamdulillaaaaah!)….

Wait a second! Christy Beach??? wuaduh ini jauh banget dari rumah kami dan nggak mungkin isteri saya (yang lagi bisa aja naik mobil) bawa mobil ke sana!….mulai dech Mama’ anak2 saya gelisah lagi!🙂 adduuuh gimana ini?? he..he..he..emang lucu ya manusia, nggak dikasih minta, dikasih beda dikit mumet🙂 …he..he..he..Panik salah satunya karena dia khawatir Prof. Judith akan “menolak”nya untuk selamanya kalo dia quit dari pekerjaan Researcher Part-Timenya.

“Dik…kalo di Islam itu ada yang namanya ‘Muhasabah’ artinya berhenti+diam+terus merenung sendiri ‘Apa sich yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup ini? dalam tahun ini? saat ini?’..pastikan rencanakan lalu Bismillaaah ikhtiar dan doa maksimal.”…..”Nah, kalo masalah Judith…santai aja ngomong aja apa adanya, bilang kalo bisa kamu masih bisa up-date research dia, bukan masalah UANG yang utama, tapi ilmu, pengalaman, dan relationship serta peluang S3 kamu nomor satu..udaah bismillaah ngomong aja apa adanya..insyaAlloh yakin dan doa mudah2an yang terbaik yang Alloh berikan ke kita.” ….

Luar Biasa! hari berikutnya, Alloh juga yang menggerakkan hati Prof. Judith “Uning..don’t panic, You still can join with this project next 3 months, I’ll let you go for 2 up 3 months then if you work very well usually you can negotiate to aks just part-time job for them”. Coba, ya Allooh, jawaban yang sama sekali nggak ada dalam pikiran saya! Excited isteri saya menelpon saya “Ya Alloh, how come Alloh begitu baik banget ya mas ke saya…kebaikan apa yang sudah saya lakukan?!!”

Hari ini, Jum’at 12 June 2009…kami berangkat bersama seperti biasa ke Uni, sambil nggojeki saya bilang “Dik..benernya kamu khawatirkan kehilangan moment kebersamaan kaya’ gini to?” :)  …. “Iya, I’ll go to work by myself and go home late by myself too” ..he..he..hari ini dia ngajak makan siang bareng di kantin, “that will be our last lunch” katanya sok sendu🙂

Alhamdulillaah..Dik..Isteriku..saya catat rizqi proses perjalanan mu ini di setengah perjalanan S3 Mas…Semoga Alloh senantiasa memasukkan kita sebagai hambaNya yang tahu dan selalu berterima-kasih (amiiin)

8 Responses

  1. ya pa toni.. sebuah pengalaman yang sangat baik.. merenung.. ternyata pertolongan itu ada dimana kita tetap selalu yakin dan berikhtiar..

    perkenalkan saya erik saya juga sedang di ausie sekarang kalo saya sendiri meninggalkan anak dan istri.. saya hanya minta informasi ke pa toni tentang kerja di pabrik jamur.. boleh saya minta no hp pa toni, \
    terimakasih. Erik

    Selamat Ber Bulan Ramadhon..

  2. Halo mas Erik..salam kenal juga. Coba dech kirim email ke email saya tonydwisusanto@gmail.com atau susa0004@flinders.edu.au Kebetulan saya nggak tahu tuch nomor telepon Pabrik Jamur cuman bisa dicari di Google atau ntar bisa nanya2 kl pas ngumpul2 temen di SA. Kalo Mas Erik di South Australia (SA), janjian aja ketemuan ama saya ngobrol2 pas di acara MIIAS atau PPIA atau AIA..suwun sampai ketemu mas Erik

  3. Mas Tony,

    Cerita yang sangat inspiratif.. saya belajar banyak dari kisah ini. Terima kasih telah berbagi…

    Andi

  4. pak toni…critanya inspiratif sekali…I like it…:D

  5. Orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah maka nikmatnya akan terus ditambah.. Senang membaca cerita orang2 yang diberi banyak kemudahan namun tidak lupa bersyukur kepada Allah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: