TEMAN saat BUTUH dan NGGAK BUTUH

friendAlhamdulillaah, baru aja Alloh ngasih hikmah ke saya. Sebuah “cermin” disodorkan Alloh dihadapan saya untuk berkaca diri: Jangan-jangan saya seperti ini.

Rasanya kemarin pengin saya “meledak” mangkel. Saya kebetulan punya seorang temen. Teman saya ini kebetulan dapat beasiswa juga untuk sekolah disini. Sama seperti saya, dia juga bertekad membawa keluarganya kemari. Sayangnya, bukan kuliah ataupun sekolah yang dia tekuni, namun kerja fisik yang selalu dia kerjakan. Disini hikmahAlloh berikan:

1. Jika teman saya ini mau menyadari, kesempatan memperoleh full beasiswa ini adalah Rahmat Alloh yang SANGAT LUAR BIASA. Bagaimana tidak, ditinjau dari sisi manapun, Alloh begitu Maha Pemurah untuk menganugerahinya beasiswa: Kemampuan English kurang, pekerjaan tidak sesuai target pemberi beasiswa, (mohon maaf) kemampuan juga kurang..(rasanya kondisi ini mirip dengan saya)…Namun Alloh begitu Penyayang memberinya beasiswa. Seperti dalam posting saya yang lalu2, disini di Australia khususnya, selalu ada Godaan yang harus kita hadapi, manakah MENTAL aseli kita: Mental INVESTOR atau mental TUKANG? Temanku ini, sebuah cermin bagi saya, jika saja saya tidak memanfaatkan anugerah ini dan “berterima kasih” kepada Alloh atas rahmat beasiswa ini, maka saya adalah dia: Tukang. Seorang TUKANG saat membangun tembok tidak akan berpikir apa-apa selain uang upah yang akan dia terima saat itu, sedangkan seorang INVESTOR selalu akan melihat kesempatan saat ini adalah modal untuk lebih banyak kesempatan dan kemanfaatan berikutnya. Sering saya merenung sendiri: Bagaimana bangsa Indonesia akan menjadi BESAR jika hampir setiap warganya yang diberikan fasilitas dan biaya Belajar di Luar Negeri malah menghabiskan hampir 10 jam per-harinya untuk menjadi TUKANG dan melupakan diri akan misi&janji BELAJAR disini? Mengapa Visi dan rencana diri yang mereka ucapkan (baca: ‘janjikan’) saat wawancara beasiswa, dengan sengaja mereka langgar sendiri disini? Sudahkah sedemikian ‘miskin’ bangsa kita, sudahkah sedemikian ‘sulit’ hidup di Indonesia hingga harapan akan kekuatan ilmu yang diperoleh di luar negeri rsanya tidak akan berari sama sekali sepulang nanti? Kapankah bangsa dan negara saya akan maju? (sebagai perbandingan, teman2 Malaysia yang sekolah disini memperoleh beasiswa dari negaranya sama bahkan lebih kecil dari beasiswa DIKTI, namun silahkan dicari hampir sulit menemukan student Malaysia yang melupakan misi Belajar dia)

Saya lebih memilih nasehat Supervisor saya saat saya Visiting Researcher dulu: “Tony…if You want to earn money, just think how much money you need, you work for that and if have got it back to your study. Working to earn money by target, and just because you need it (not because You want to earn as much as money!!!). Semoga Alloh senantiasa menjaga Mimpi Besar Kemanfaatan saya, semoga ni’mat beasiswa ini tidak sia-sia bagi bangsa saya.

2. Hikmah kedua yang Alloh sampaikan: Teman saya ini hampir ‘TIDAK PERNAH’ menghubungi saya atau main atau ngobrol dengan saya kecuali hanya jika dia BUTUH BANTUAN saya😦 Even dia menawarkan siap membantu, tapi dalam kenyataan sesudah ucapan itu dia yang akan segera menghubungi saya untuk meminta bantuan selalu. Awal-awal memberi bantuan..manajemen keikhlasan bisa terjaga, namun begitu semakin rutin dan akhirnya “njaga’ke” duuuh di sini saya sudah mulai nggak tahan. Namun dibalik ‘kemangkelan’ saya ini, saya menjadi ingat:

“Jangan-jangan SAYA adalah dia???”😦 Jangan-jangan selama ini saya hanya menelepon dan mengirim SMS ke teman saya hanya saat saya BUTUH bantuan, Jangan-jangan saya hanya main ke rumah teman hanya saat saya punya tujuan pribadi, Jangan-jangan saya hanya Beramah Tamah dan Bermanis Muka dengan teman hanya saat saya punya pamrih😦 Jangan-jangan saya begitu menyebalkan seprti dia bagi teman saya!

Sebuah kalimat ‘guyon’ yang masih saya inget: “Jika suatu ketika kita menolong seorang WANITA maka wanita itu akan selalu mengingat kebaikan kita itu, namun suatu kali kita menolong seorang LAKI-LAKI maka santai aja dia akan mengingat kita selalu manakala dia BUTUH BANTUAN lagi!”

Ya Alloh, mudah2an saya tidak seperti itu. Semoga Engkau mendidik hamba untuk mampu membangun silaturahmi saat BUTUH dan NGGAK BUTUH.

3. Hikmah yang ketiga adalah Kemandirian Diri dan Keluarga. Teman saya ini jelas-jelas telah bertekad membawa anak dan isterinya kemari, dan menyekolahkan anaknya. Jelas sebagai orang tua, kitalah yang harus memprioritaskan diri menjaga dan memelihara mereka, termasuk mengantar jemput anak kita (apalagi tugas utama kita adalah student). Tapi ternyata, teman saya ini “lebih memilih” bekerja dari belajar (padahal belajar adalah satu2nya alasan dia bisa datang ke sini), bahkan “lebih memilih” bekerja daripada mengantar jemput anaknya apalagi mengajarinya belajar, dia lebih memilih terus mencari dan meminta bantuan orang lain untuk mengantar jemput sekolah bagi anaknya😦

Itu memang urusan dan hak dia, tapi Alhamdulillah ini menjadi cermin kembali buat saya apakah saya sedemikian menjadi “budak” uang hingga menomor-duakan anak dan isteri saya? Ya Alloh..cukupilah kami dengan rizqi yang melimpah dan keluarga yang sakinah dan barokah, sehat dan manfaat…amiiin.

One Response

  1. halo pak tony… gimana kbr disana? kapan balik ke YK pak? gi musim apa disana pak? pak klo balik jgn lupa oleh2nya ya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: