Pentingnya seorang PhD bagi sebuah Universitas

uni_worldDalam masa persaingan bebas ini, di mana universitas-universitas suatu negara lain sudah diijinkan beroperasi di negara manapun, sebuah pilihan pasti untuk setiap universitas yang masih ingin survive:Menjadi universitas bertaraf internasional (World Class University /WCU)atau stagnant dan mati pelan2!šŸ˜¦

Mimpi dan visi menjadi sebuah Universitas bertaraf Internasional pastilah dimiliki oleh setiap universitas di negeri kita. Sayangnya, banyak saya jumpai mimpi itu hanyalah sekedar mimpi karena banyak universitas yang “malas” berubah meningkatkan manajemen dan culture organisasinya.

Belum lagi ada indikator-indikatorĀ  yang harus dipenuhi, diantaranya:

1. Memiliki 40% dosen bergelar doktor atau PhD. Itupunkompetensinya penguasaan materi kuliah bertaraf internasional, pembelajaran berbasis IT dan menggunakan Bahasa Inggris. Selain itu juga penelitian bertaraf internasional, membuat artikel untuk jurnal internasional dan menghasilkan karya inovatif sehingga memperoleh hak cipta, hak paten dan hadiah nobel.

2. Aspek publikasi untuk WCU minimal 2 paper per staf per tahun.

Pak Bu Pejabat, yuk evaluasi kembali ‘Sudahkah kita membangun budaya menulis di PT kita?’, ‘Sudahkah kita membangun sistem yang mampu memotivasi setiap dosen untuk menulis dan mempublikasikan tulisannya?’, Sudahkah dosen kita tidak lagi khawatir tentang bantuan dana untuk presentasi dan publikasi ke luar negeri?’

3. Student Body: standarnya 40 persen mahasiswa Program Pascasarjana (PPs)

4. Mahasiswa asing standarnya 20 persen

5. ICT: standarnya 10 MBPS per mahasiswa

6. Anggaran riset yang standarnya 1.300 dollar AS/tahun

Nah…kalo melihat dari kebutuhan-kebutuhan PT di atas, rasanya nggak bisa dipungkiri seorang PhD (khususnya yang memiliki kompetensi internasional dalam pengajaran dan penelitian) adalah asset yang sangat berharga untuk setiap PT yang ingin tetap hidup dan maju menjadi International University.

Pertanyaannya: Sudahkah organisasi dan manajemen Perguruan Tinggi kita telah memandang dosen sebagai Asset? (ataukah jangan-jangan selama ini PT kita hanya memandang dosen hanya sebagai Beban organisasi dan hanya dia yang membutuhkan PT, PT sama sekali tidak butuh dosen). Sudahkah PT kita “memelihara” PhD dan calon-calon PhD nya dengan membangun suasana kerja, peluang karir, kesempatan berkarya, dan berbagai sistem motivasi lainnya? (ataukah jangan-jangan PT kita hanya focus pada manajemen “menakut2i” dengan hanya menyediakan sistem Punishment tanpa ada Reward system).

Memang di tahun-tahun ini, jumlah organisasi yang bangkrut semakin banyak, yang dapat diartikan ‘cari kerja semakin sulit’. Tapi dari sisi perusahaan, dengan banyaknya pesaing yang bangkrut, berarti pula semakin terbuka kesempatan menjadi JUARA bahkan di tingkat Internasional. Sekali lagi, jika kita menyadari syarat ASET yang kita butuhkan. Semoga bermanfaat.

(Sumber Data: Prof Dr Sugiyono, 15/12/2008)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: