Di Sini, setiap Hari berlalu, Hilang 1 Kesempatan Peningkatan Diri

Barusan ngobrol dengan sahabat S1-ku dulu tentang tantangan hidup ‘sebenarnya’ di Indonesia. Sesak dada ini rasanya. Betapa hidup di tanah air tercinta membutuhkan usaha yang jauh lebih keras. Bahkan, saking besarnya selisih antara Kebutuhan Hidup dengan Pendapatan Pokok kita, sangat sulit rasanya bagi setiap orang (termasuk PNS) untuk hidup ‘mligi’ dalam satu bidang. Teman saya ini, seorang PNS di suatu organisasi pemerintah, pun harus nyambi ngajar banyak  jam di perguruan tinggi swasta. Seorang teman yang lain yang sedang S3 di sini-pun, rupanya juga sudah menyiapkan bisnis sampingannya sepulang nanti karena yakin penghasilan pokok mengajarnya nggak bakalan mencukupi.

Saya hanya jadi sedih dan ‘sesak’, apakah mungkin bagi seseorang seperti saya ini kembali ke Indonesia untuk menekuni satu bidang yang memang saya dalami? Mimpi dan semangat ini begitu menggebu di kepala dan dada ini, bahwa saya harus benar-benar “berkemampuan” hingga saya mampu mencari penghidupan hanya dengan mendalami dan benar-benar menguasai bidang ini.

Namun saya sadar saat ini semua ini adalah pertarungan antara “hipotesis” saya tentang jalan hidup dan kemungkinan real situations yang akan saya temui. Sampai saat ini saya masih dan ‘harus’ mempercayai bahwa Pengetahuan yang Mendalam + Ketrampilan yang Applicable + Networking/silaturahmi yang luas + Terus Semangat/tekad&Keyakinan atas ridlo,rizqi,&kuasa Alloh –> “Pasti” akan memungkinkan kita Meraih “Kemuliaan Peran” di dunia, meski hidup di Indonesia! Insya Alloh.

Kini, kesempatan hari-hari beasiswa ini harus terus kumanfaatkan semaksimal mungkin, tiap malam mulai datang dan mataku memberitahukan kantuknya adalah tanda satu hari kesempatan mempersiapkan diri ini berlalu menghilang. Jantung ini serasa berdetak semakin kencang tiap kali sadar satu hari berlalu ini semakin mendekatkan saya pada episode saya, kemanfaatan saya, dan keluarga saya yang harus memasuki babak baru lagi. Dan babak baru selesai PhD ini, bukanlah main-main lagi! tidak ada lagi kompromi sekolah untuk ku, yang ada hanya saat pembuktian apakah benar-benar saya dilahirkan untuk BERMANFAAT bagi dunia ini ataukah for Nothing karena untuk sekedar hidup dan menghidupi keluargakupun masih tertatih. Bismillaahirrohmaanirrohiim….selalu saya percaya Batu yang Keras sekalipun jika di tetesi air hujan dari pohon PASTIlah akan berlobang, apalagi Otak kita yang begitu lembut ini..PASTI akan mampu menyimpan Pengetahuan dan Ketrampilan yang selalu rutin & tekun kita “tetesi” setiap hari. Selalu saya percaya kisah riwayat hidup perowi hadist yang sangat terkenal, mampu mengingat dan membukukan kitab yang terpercaya, meski sebelumnya di masa mudanya terkenal sebagai seseorang yang sangat sulit mengingat dan belajar. Saya hanyalah manusia yang insyaAlloh terus mau belajar, saya tidaklah pandai, tapi insyaAlloh saya bersedia menggunakan sedikit kepandaian saya ini untuk terus berlatih dan fokus pada mimpi dan doa. InsyaAlloh yang sedikit ini ‘pasti’lah akan berkembang..seperti Hukum Lamarch ‘Bagian tubuh yang senantiasa DILATIH akan BERKEMBANG, sedangkan yang tidak pernah digunakan akan menyusut dan “menghilang”‘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: