“CLiMBER” atau “Camper”?

Suatu siang, pernah saya terlibat obrolan dengan supir Taxi. Betapa dia sangat bangga sekaligus bingung dengan keputusan anaknya yang bekerja di BNI. Dia bangga karena meski bekerja sebagai sopir taxi, tapi berhasil menyekolahkan anaknya hingga “sukses” bekerja dan menduduki jabatan di BNI. Dia binggung karena anaknya bercerita bahwa dia tidak bersedia disekolahkan lagi oleh instansinya meski tawaran dan peluang datang berkali-kali.

“Kalo saya sekolah, ntar Jabatan saya diambil orang lain Pak!” kekhawatiran anaknya mengapa dia memilih terus bekerja  dan tidak mengambil kesempatan belajar lagi dengan beresiko melepas jabatannya.

“Lho Pak, bukankah kalo anaknya sekolah, ntar peluang karir anak Bapak akan jauh lebih terbuka?”…komentar saya sekedar sharring prinsip hidup yang saya yakini. Memang sih..peluang karir baru yang jauh lebih besar itu baru ‘peluang’ artinya nggak ada kepastian, tapi bukankah memang demikian karakteristik setiap PELUANG?

“PELUANG” adalah takdir Alloh yang TIDAK PASTI (menurut kita), namun yang PASTI, setiap Peluang pasti menuntut Pengorbanan terlebih dahulu. “Peluang” = Harapan, juga “Peluang” = Ketidakpastian. Kalo mau ngejar Peluang, pasti ‘Mbayar’ dulu, tapi kalo udah mbayar nggak ada jaminan harapan itu didapat. Tapi kalo nggak mau ngambil peluang, hidup juga nggak bakalan ke mana-mana. Padahal hidup ini singkat banget dan bisa nggak berarti sama sekali jika kita memang ‘nggak kemana-mana’.

Jadi selalu saya menanyakan ke diri ‘lemah’ ini: “Apakah saya seorang CLIMBER atau seorang CAMPER?”

Seorang Climber, akan selalu melihat setiap hambatan, tanjakan, semak belukar, ancaman, jalan yang sulit, panjang, dan berbukit-bukit sebagai sebuah Tantangan yang membuat perjalanan hidup kian lebih bermakna. Seorang Climber akan selalu melihat setiap prestasi yang teraih sebagai sebuah tahapan untuk terus berkarya dan bermakna lebih besar lagi, sebagai sebuah batu lompatan untuk kemanfaatan berikutnya.

Namun bagi seorang Camper, apa yang sudah dia peroleh dan nikmati saat ini adalah keberuntungan dan prestasi maksimal yang harus totalitas dia jaga. Bagi dia tidak mungkin lagi ada harapan yang lebih baik. Ini semua sudah sangat nyaman, sudah nggak mungkin lagi saya peroleh di kesempatan lagi; Bodoh kalo kenyamanan, jabatan, dan fasilitas ini saya lepaskan hanya untuk sebuah harapan yang nggak pasti. Camper selalu ingin tinggal dan nyaman, karena baginya kehidupan diluar tendanya adalah dunia yang berbahaya yang akan menghilangkan kenyamanan hidupnya dan keluarganya.

Jadi, apakah saya CLiMBER atau Camper? InsyaAlloh, selalu saya menasehati diri saya sendiri: “Tony,…hidup ini adalah KETIDAKPASTIAN, kapan kita masih hiduppun Tidak Pasti, jadi mengapa kita harus takut mengambil resiko KetidakPastian lainnya?”…”Tony…Jadilah seorang CLiMBER yang cerdas membaca setiap harapan dan resiko, menjadi seorang CLiMBER yang selalu mau berendah hati belajar dari orang lain dan lingkungan, menjadi seorang CLiMBER yang senantiasa terus menjaga silaturahmi meningkatkan kemanfaatan diri.”

3 Responses

  1. Boleh ya sharing.

    Pemikiran yang timbul bahwa kalo kita sekolah, nanti jabatan kita akan diambil orang, bisa terjadi pada orang yang bekerja di lingkungan, dimana pendidikan yang lebih tinggi tidak terlalu diperlukan dalam karir, dibandingkan dengan pengalaman atau jam terbang yang tinggi.

    Pada lingkungan tersebut, karir meningkat seiring dengan interaksi dan prestasi di lingkungan tersebut, dimana kita akan selalu menghadapi (dan menyelesaikan) masalah2 yang timbul. Lingkungan kita (atau atasan) akan melihat kita atau cara kita ‘dealing’ dengan masalah tersebut.

    Kalau kita tidak ada atau hilang di lingkungan itu, otomatis pantauan atasan akan tidak ada lagi, sehingga ada yang menganggap jika kita kembali ke lingkungan itu (setelah sekian lama bersekolah) kita kan kembali dari nol lagi (dalam membangun karir).

    Lingkungan kerja yang dimaksud tentu bukan lingkungan akademis, karena kita tahu lingkungan akademis sangat menjunjung tinggi tingkat pendidikan.

  2. Wuih, point of view menarik nih Ndro’! …. emang beda lingkungan, beda orang and beda “aturan maen”. Anyway, Dro’ kalo saya masih percaya kalo nambah ilmu tuch bakalan nambah banyak peluang..even maybe not just in the same institution. Jelek2 gini, aku juga ambil resiko “nggak punya kerjaan” lho Dro’ ambil peluang S3 ini🙂 …he..he..he..kaya’nya jabatan kamu udah tinggi ya Dro’?🙂

  3. Ah enggak, secara struktural saya masih staff, Ton. Sampai sekarang masih dalam proses “menambah jam terbang”. Jabatan di pemerintahan harus siap selain teknis juga non teknis. Kita harus bisa ‘ngemong’ anak buah yang bisa jadi lebih berpengalaman/tua dan lebih ‘pinter’ dari kita.

    Kadang2 kita harus terlibat dalam permasalahan anak buah yang bukan masalah kerjaan. (rumah tangga, kesejahteraan, dll), jadi kita harus bertindak lebih bijak lagi.

    ‘Kepantasan’ saya saat ini kayaknya belum, mungkin beberapa tahun lagi. (mengukur diri….)

    Saya pribadi menjunjung tinggi masalah pendidikan. Saya yakin semakin tinggi pendidikan, cara pandang dan ‘action’ seseorang untuk menyelesaikan masalah, ‘seharusnya’ menjadi lebih baik……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: