Susahnya Menjaga Konsistensi terus BERPIKIR BESAR

Dimulai saat saya masih kuliah S1, sebuah buku begitu “bertemu” dengan pilihan karakter saya. Buku “Berpikir Berjiwa Besar” hanyalah pinjaman dari sahabatku Tomy yang saat ini entah tinggal dimana. Buku yang juga berkesan bagi seorang akademisi sekaligus politisi sekaliber Anis Matta (Sekjen PKS) ini, bener2 menghujam dan mengingatkan jiwaku manakala letih dan ingin menyerah.

Berpikir dan Berjiwa Besar mengajarkan saya bahwa keberhasilan seseorang bukanlah pada seberapa besar volume otak dia tetapi seberapa BESAR dia berfikir (baca: berkeinginan/bercita2, bertekad dan berikhtiar)!

Berpikir dan berjiwa besar mengingatkan saya akan petunjuk Alloh tentang rahasia takdirNya “Aku adalah seperti apa persangkaan hambaKU“. Jelas Alloh pun menyuruh kita untuk selalu berpikir dan berprasangka positif bahkan sebesar mungkin akan diriNya tanpa perlu sekalipun tidak percaya diri.

Memang, tekad tidak semudah mengucapkannya. Bagaimana pun juga tekad dan keyakinan saya pasti akan terpengaruh lingkungan saya. Banyak sekali lingkungan disekitar saya: keluarga saya, saudara2 dan orang tua saya, lingkungan kerja saya, lingkungan tinggal saya, lingkungan study saya dll. Semua lingkungan khususnya orang yang berinteraksi dengan saya pasti selalu ingin mempengaruhi kita, menarik kita ke dalam keyakinannya, menarik kita menjadi “pengikut”nya. Sayangnya hampir sebagian besar lingkungan kita tidak pernah mengijinkan kita untuk berpikir besar😦 Sebagian besar lingkungan kita EGOIS seperti ke-egoisan diri kita sendiri, masing2 dari mereka menuntut totalitas pengabdian dan penyerahan seluruh waktu dan hidup kita sementara disaat tertentu tidak perduli dengan stagnansi hidup dan karya diri kita. Di sinilah TANTANGAN ini ada: Benturan, Konflik, Tarik-Menarik Tekad dan Pilihan Takdir Diri pastilah terjadi. KONSEKUENSI negatif selalu ada: tidak puas, dibicarakan orang, dilupakan, dibenci, … kenapa? ya pada intinya karena kita lebih memilih konsistensi Cita2 & Tekad HIDUP BESAR kita yang bisa jadi tidak akan memenuhi keinginan orang lain. Tidak Mudah untuk melakukannya. Namun, sekalipun kita mengikuti setiap tuntutan kebutuhan lingkungan kita tadi, apakah mereka akan puas dan memuji kita? ada 2 permasalahan lain yang malah sebaliknya muncul: satu, saat kita melakukannya hanya untuk menyenangkan hati orang lain, menjaga nama baik kita dan agar memperoleh pujian dan kepuasan hati orang2 lain pada saat itu SYIRIQ Kecil (riya) sedang kita lakukan; ke dua meskipun beratus2 berjuta2 kebaikan kita lakukan untuk manusia dan kita mengharapkan diri pada manusia maka tiada lain yang harus kita persiapkan adalah KEKECEWAAN (saya masih ingat nasehat Zainudin MZ: “manakala kita berharap kepada makhluk maka bersiaplah untuk kecewa!”). Saya percaya kita tidak akan pernah memuaskan makhluk/manusia, kita tidak akan pernah memuaskan hati setiap orang/teman, bahkan meski kita telah berbuat baikpun sangat sering terjadi catatan kejahatan/kejelekan dalam persepsi dan pemahaman mereka.

Saya percaya bukan keinginan orang lain yang harus saya turuti tapi tekad BESAR akan HIDUP BESAR dan KEMANFAATAN BESAR yang harus terus saya jalani dan saya pastikan dalam kesempatan hidup “singkat” ini.

Jadi BESAR atau mati!!!

Hidup MULIA (dihadapan Alloh) atau mati!!!

tidak ada pilihan ‘aman’ dalam hidup ini jika pilihan itu hanya sebagai alasan untuk tidak mencoba peluang takdir Manfaat Besar. Tidak ada pilihan rutinitas kenyamanan jika pilihan itu hanya akan melenakan dan melemahkan diri ini untuk berhenti berusaha. Tidak ada pilihan untuk ‘dihormati’ jika kehormatan itu hanya persepsi orang lain akan kebodohan kita yang tertutupi. Tidak ada kepastian jika kepastian itu memaksa saya untuk tidak boleh terus BERMIMPI dan BERKEMBANG terus. Percayalah “Aku (Alloh) seperti persangkaan hamba-KU”.

Hidup hanyalah menjalani dan menghitung kesempatan hari. Hingga diakhir hayat kita nanti kita akan bertanya pada diri kita sendiri, sudah maksimalkah kita dalam berusaha dan beribadah??? Memang hanya inikah pencapaian prestasi ibadah & kemanfaatan diri ini??? ataukah ini karena kemalasan dan kepengecutan ku dalam berikhtiar dan meyakini kepastian Rizqi hanyalah dari Alloh semata.

Tidak ada kata “BANGKRUT” dalam diri saya, Alhamdulillah yang ada adalah hikmah dan ilmu Alloh akan manajemen dan resiko berwiraswasta. Tidak ada kata “SALAH” dalam mengambil keputusan dalam hidup saya, selama keputusan itu memang telah menjadi diri dan tekad jiwa dan jasad ini. Tidak ada kendaraan kemudi yang jauh lebih “aman dan pasti” selain bidang/keahlian yang memang benar2 kita miliki!!!

Jangan pernah biarkan diri ini terlena akan pujian teman/orang lain jika ternyata pujian itu hanya persepsi. Pujilah Alloh dan diri sendiri untuk diri sendiri juga manakala kita memang telah membuktikan diri. Tidak perlu pujian, Prestasi dan Kesempatan yang ada itulah parameternya. “Not necessary to talk about ourselves if it’s just about showing up, ‘our achievements’ will show more what we are “. Hati-hati akan kesombongan, karena ini dapat menjauhkan diri kita dari ridlo Alloh. Berendah hatilah selalu, bersyukur dan sadar diri, maka insyaAlloh, Alloh akan terus mengangkat diri ini. InsyaAlloh, Bismillaahirrohmaanirrohiim.

One Response

  1. […] 1.Susahnya Menjaga Konsistensi terus BERPIKIR BESAR oleh mas Tony Dwi Susanto..(dua kata terakhir mirip nama dosen PS ku loh….:xixixixi:) tonydwisusanto.wordpress.com […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: