Focus pada Target Doa!!!

Saat seorang atlit menembak ingin mengenai tepat sasaran tembaknya maka Syarat Mutlaknya DIA HARUS FOKUS. Mata diri focus pada sasaran, arah tubuh diri focus pada sasaran, tangan dan tembak dia fokus pada sasaran, batin dan pikiran dia fokus pada sasaran, bahkan helaan nafas dia harus di”serasikan” dengan sasaran.

Focus pada sasaran BUKAN HAL YANG MUDAH & MURAH. Seringkali fokus menuntut pengorbanan meski hasil akhirnya tetap tidak pasti. Bisa jadi atlit tembak yang sedang fokus menembak tadi akan mendengar TUKANG BAKSO lewat, bukan cuman lewat bisa jadi tukang baksonya teriak “Ayo Gratis! Gratis! kalo nggak makan sekarang nggak dapat!” Padahal atlit itu jelas lapar karena seharian focus terus. Atlit itu harus meyakinkan diri sendiri secara kontinyu untuk percaya akan keberhasilan cita-citanya meski harus melewatkan nikmat2 lainnya.

Analogi lain tentang Focus pada Target Doa adalah cerita Aladin. Sejak awal memasuki gua harta karun, Aladin telah focus untuk mencari dan mengambil Lampu Wasiat. Berbagai cobaan dan godaan dia dapatkan. Ibarat naik lift, naik lantai 1 pintu lift membuka, terhampar Harta Perunggu untuk diambil, terdengar kata-kata “Pintu Lift 1 telah terbuka Silahkan Mengambil Harta Perunggu sesuka Hati anda!”..”Haruskah saya mengambilnya atau tetap focus semua energi dan pikiran pada tujuan, naik ke lantai berikutnya meski nggak pasti nanti ada harta seperti ini lagi?”. Perunggu dia lewatkan, dia putuskan untuk naik ke level 2 meski tidak ada kepastian apakah ada Lampu atau harta yang lebih baik. Naik ke lantai 2, Pintu Lift Membuka, terdengar suara, “Selamat, anda telah membuka Pintu Harta Perak..silahkan anda ambil sesuka anda”. Kembali Aladin bimbang haruskah saya lewatkan lagi harta gratis sebanyak ini atau saya tetap harus focus pada tujuan? Tidak mudah untuk meyakinkan diri dan memberanikan diri mengambil keputusan melewatkan peluang yang ada untuk sebuah mimpi yang juga belum pasti. Aladin membulatkan tekad, “Tidak ini bukan cita2ku! aku ingin yang ‘terbaik’ untukku!” Dia tutup lagi pintu lift dan naik lagi ke lantai 3. Kini godaaannya jauh lebih besar…apa itu : Lantai 3 berisi ruangan yang sangat luas berukuran “4 tahun” penuh berisi “Dollar-Dollar Australia” yang jika dikonversikan dengan Rupiah bisa bernilai Rumah, Mobil, bahkan kehormatan di hadapan teman-teman/saudara. Godaan jauh lebih berat lagi manakala dia melihat suangat banyak orang-orang yang jauh lebih memilih HARTA daripada cita-cita awal (Ilmu). Saat pintu lift lantai 3 membuka, serombongan orang-orang yang telah mengambil harta-harta itu juga memasuki lift yang sama, obrolan2 kesombongan tentang harta yang diperoleh semakin menambah godaan hati Aladin. “Rugi ya disini nggak kerja!” “Wah..kalo saya total bawa 500juta” ..”kalo saya 1 milyar”..”wah kalo Pak Anu tuh hebat banget suami isteri bahkan anak diperkerjakan semua bawa pulang 2 milyar”…”pokoknya kerja no 1 dollar no 1, belajar yang penting lulus aja khan saya Pegawai Negeri”…Suara-suara keyakinan atas harta mau tidak mau mengganggu hati Aladin. Tapi sekali lagi Aladin bertekad kuat, dia berdoa sesuai tuntunan Umar Bin Khatab, “Ya Alloh, mohon ridlo, kekuatan dan kelapanganMu, jadikanlah Harta di TANGANku dan BUKAN DIHATIku”…Ingat kembali atas nasehat Ali bin Abi Tholib “Jikalau engkau mencari Harta maka Engkau Yang Harus Menjaganya, Jikalau engkau memilih ILMU maka ia yang akan MENJAGAmu”…….Tidak Mudah bagi Aladin untuk membulatkan diri, Tidak mudah untuk Aladin untuk menutup pintu Lantai 3 itu, hanya berkat ridlo dan kecukupan karunia Allohlah pintu itu akhirnya sekuat tenaga dapat dia tutup. “Alhamdulillaah” pikirnya “Untung Alloh telah mengaruniakan saya kecukupan Basic Need”….Wajar jika Aladin tergoda jika masih sering bersama atau tinggal dengan “pencari harta”…Aladin memilih Lift yang sunyi dimana dia dapat focus pada cita-cita diri…Kamu adalah kamu, saya adalah saya, kamu punya peluang dan situasimu sendiri saya punya peluang dan tantanganku sendiri, kamu memilih jalan dan takdir masa depanmu saya memilih jalan dan takdir kemanfaatanku. Saya dan kamu berbeda, siapa yang lebih baik saya tidak perduli, yang saya perduli bahwa saya harus lebih baik lagi, yang saya yakini bahwa Cukup adalah jauh lebih baik dari Berlimpah yang selalu kekurangan., Ilmu pasti akan diikuti harta tapi harta hanyalah berjalan sendiri tidak pernah cukup dan segera menghilang. Bismillaahirrohmaanirrohiiim Aladin meneruskan liftnya untuk lantai yang lebih tinggi: ILMU dan SKILL Rohmatan Lil Alamiin
Hari ini (19 Juli 2008) Bulan ini, satu lagi pintu harta “kecil” itu akan saya tutup….Bismillaahirrohmaanirrohiiim……..

Goodbye CLEANiNG, Thank You Brian, Thank You Deryl at least kalian telah membantuku dan keluargaku untuk survival selama Stipendku masih dibawah standar. Kini Alhamdulillaah, saya meyakini kecukupan Stipend mulai bulan ini adalah petunjuk dan tuntunan Alloh agar saya memilih jalan nafkah yang lebih “belajar” dan “meningkatkan kemanfaatan diri” dan focus pada target doa hidup berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: