Alloh TIDAK MENYESATKAN kita, kita sendiri yang MENUTUP DIRI dari Hidayah Alloh

Pernah saya diskusi dengan seorang teman yang tinggi ilmu agamanya tentang apakah ketika kita lahir Alloh sudah menetapkan bahwa kita nantinya memang DITAKDIRKAN jadi orang BAIK atau jadi orang JAHAT dan kita tidak bisa merubah takdir itu. Teman saya meyakinkan saya bahwa Alloh telah menakdirkan itu dan kita tidak bisa merubahnya. Saya tidak puas dengan analisis dia karena keyakinan saya bahwa Alloh Maha Adil, Maha Pemberi Petunjuk, sekaligus Maha Mutlak yang tidak bisa di’dekte’/dikekang bahkan oleh takdir yang di’tulis’kanNya sendiri.

Berikut sepenggal diskusi tentang hakekat KEJAHATAN dan HIDAYAH Alloh, yang sedikit memberikan saya keyakinan bahwa apakah kita menjadi BAIK atau JAHAT hanyalah tergantung pada keputusan kita (karena saya yakin Alloh memberikan keleluasaan itu kepada kita sebagai khalifah bumi): Membuka Pintu Hati kita akan Hidayah Alloh dan mengikutinya atau Menutup Diri/Tidak Perduli dengan Hidayah yang Alloh hadirkan. Berikut diskusinya (diambil dari Milis MIIAS):

APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN?
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal itu menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerj aan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiad aan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.

Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Terhadap pernyat aan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiad aan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiad aan panas dan gelap yang timbul dari ketiad aan cahaya.”
Profesor itu terdiam.

Jadi….semoga Alloh senantiasa mengingatkan saya untuk ‘mengikuti’ kata hati ini, menerima setiap kemuliaan yang diajarkan, mewaspadai setiap ilmu yang bertentangan dengan nilai nurani, mempelajari sesuatu dari sumber yang pasti untuk dapat konsisten melakukannya. Hidayah Alloh selalu ada jika kita memang membuka hati kita, Alloh tiada pernah menginginkan hambaNya untuk sesat, jahat, menyakiti diri sendiri bahkan makhluk lain, semua hanya karena kita sendiri yang mematikan ‘cahaya’ hidayah Alloh.

Bismillaahirrohmaanirrohiim…Ihdinash shirootolmustaqiiim…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: