Hanya karena PERSPEKTIF yang BERBEDA

perspective.jpg Cerita ini saya sadur dari tulisan Mas Joko Julianto (Ketua PPIA South Australia), sangat menarik untuk sekedar mencoba mengerti mengapa dalam beberapa kasus ALLOH “tidak langsung menolong” kita atau dalam kasus yang lain kita PANIK sementara orang lain TENANG untuk kasus yang sama. Demikian ceritanya:
Pagi itu, setelah menyelesaikan suatu perkara, seperti biasa aku kembali ke ruangan ku, dimana meja dan kursi dan berkas-berkas lain menanti untuk dikerjakan. Dalam perjalanan itu, aku bertemu dengan serombongan ibu dengan anak-anaknya yang masih balita. Ia mendorong kereta bayi dengan bayi mungil di dalamnya, dan 2 balita imut mengitarinya. Tingkah laku 2 balita itu menyita perhatianku sepanjang perjalanan di pagi itu. Tidak seperti biasanya, ku perlambat langkah kakiku selambat-lambatnya, supaya aku bisa menimati tingkah 2 balita yang kelewat imut itu. Mungkin kita dulu juga seperti itu. Imut dan lucu. Lugu serta serba ingin tahu apa ini apa itu, yang kadang merepotkan.
Tiba-tiba rombongan itu, ibu dan anak-anaknya, harus melewati sebuah selokan kecil, mungkin sekitar 30 cm lebarnya, tidak lebih, tidak dalam, sekitar 15 cm. Di atas selokan itu dipasang jeruji besi yang sangat kokoh dan rapi, hingga tidak akan reyot meski ratusan truk melewatinya. Namun,tahukah apa yang terjadi?
Si balita kecil itu menangis sekencang-kencangnya. Aduh.., semakin imut saja balita kecil ini. Sementara sang ibu berada beberapa meter di seberang selokan itu. Rupanya si balita kecil ini takut menyeberangi selokan itu. Ia terus menangis kencang. Sang ibu berkata dari kejauhan ‘Ayolah….jangan takut. Ga papa kok…..come on…’ kira-kira begitulah maksudnya dalam bahasa ‘jerman’.
Setelah menangis beberapa saat, balita itu akhirnya melewati selokan itu dengan setapak demi setapak, dan setelah itu, ia berlari memeluk ibunya. ‘Mamaaaa……’ teriak balita itu sambil menangis kepada ibunya. ‘Tuh kan…ga papa….udah ya…cup cup….’ yah..sekali lagi mungkin itu kira-kira maksud dari kata-kata sang ibu kepada anaknya sambil mengusap pipi balita itu yang memerah.
Kejadian itu sangat mengesankan bagiku. Tapi kira-kira apa ya maksudnya? Kenapa Allah mempertemukan ku dengan mereka di pagi yang sejuk ini?
Itulah kira-kira balita. Ia melihat selokan sebagai objek yang sangat berbahaya sehingga ia meminta bantuan ibunya untuk menyeberanginya. Meski selokan itu kecil, tertutup besi, ia tetap melihatnya sebagai objek yang berbahaya, meski akhirnya ia berhasil melewatinya juga. Ia melihat sesuatu dengan perspektif yang dia miliki. Tidak seperti sang ibu, ia telah mengerti apa arti selokan yang hanya 30 cm itu. Ia memiliki perspektif yang tidak sama.
Dan, mungkin demikian pula kita, manusia. Kita memilki perspektif yang terbatas. Terkadang apa yang kita hadapi kita pandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Tetapi dari perspektif lain, sebenarnya apa yang kita hadapi bukanlah sesuatu yang membahayakan.Kita hanya terjebak dalam perspektif kita yang terbatas, dan terkadang pula kita terjebak dalam prasangka yang kita buat.
Mungkin apabila kita buat analogi sederhana, balita itu tak ubahnya manusia, sedangkan sang ibu adalah Allah. Allah tahu apa yang kita hadapi. Si ibu tidak akan membantu si balita karena memang masalah yang dihadapi balita kecil itu tidak besar. Allah pun demikian. Ia tidak akan memberikan cobaan melebihi kapasitas manusia untuk menyelesaikannya. Terkadang kita terjebak dalam perspektif kita sendiri dalam menghadapi sebuah masalah. Namun setelah masalah itu berlalu…ah….biasa. Kita aman-aman saja.
Ada juga di antara kita yang menghadapi peluang dengan perspektif yang berbeda. Ada yang melihatnya sebagai bencana. Ada yang melihat sebagai nilai positif. Bagaimanapun, peluang, masalah, cobaan, itu semua akan kembali kepada kita. Kita sendiri yang akan memperoleh manfaatnya. Apa yang kita alami akan menjadi guru terbaik. Dengan melewati segala rintangan, kita akan memperkaya diri kita dengan banyak perspektif dalam kehidupan yang terbatas ini.
Dari menyeberangi selokan, balita kecil itu akan berani menyebrangi selokan yang lebih besar, parit, danau, bahkan samudra, suatu saat nanti.
Dapatkah kita bayangkan kalau ia selalu mogok untuk menyeberang selokan?

Mudah2an Alloh senantiasa mengingatkan saya akan cerita hikmah ini hingga saya selalu mampu dengan TENANG, PENUH KEYAKINAN dan TAWAKAL kepada ALLOH untuk selalu BERANI menghadapi dan menyelesaikan nikmat masalah yang senantiasa Alloh hadirkan…melatih kita lebih baik lagi…lebih baik lagi dan lebih baik lagi hingga saatnya Alloh jiwa ini menghadapnya. Bismillaahirrohmaanirrohiim..La khaula wa la khuwata ila billah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: