CRITICAL THINKING: ini yang membedakan Kecerdasan kita

thinking.jpgSayang ya….ada sisi baik budaya dan pendidikan Jawa saya yang ternyata kini saya akui juga memiliki kelemahan. “Berfikir Kritis” adalah sebuah kemampuan dan kebiasaan – lebih dari hanya sekedar cara – yang sangat perlu kita latih sedini dan sesering mungkin. Saya…lahir dari keluarga Jawa dan budaya Indonesia secara umum yang sering kali budaya menghormati orang lain dan “takut” menyinggung perasaan orang lain memaksa saya untuk mengangguk-anggukkan kepala tiap kali orang lain atau guru/dosen saya mengajarkan sesuatu hal yang baru. Saya khawatir untuk menyela atau meragukan informasi yang disampaikannya. Saya cenderung bahkan selalu menerima informasi apapun yang disampaikan siapapun, apalagi kalo yang menyampaikannya sudah ustadz, haji, professor, doctor, atau pakar….maka biasanya saya langsung manut dan percaya 100% tanpa khawatir kebenaran informasi tersebut.

Budaya dan perasaan selalu menyenangkan orang lain … selalu setuju…tidak enak bertanya…selalu saya lakukan karena itu yang selalu saya percaya baik saya lakukan…Perlahan-lahan perbuatan itu menjadi KEBIASAAN, kebiasaan yang terus saya lakukan dan jaga akhirnya menjadi sebuah KARAKTER, karakter yang terus saya lakukan akhirnya berimbas pada KECERDASAN dan SIKAP OTOMATiS saya. Sebuah konsep sederhana “Critical Thinking” menyentakkan saya bahwa selama ini tanpa sadar saya telah perlahan-lahan MEMATIKAN potensi kemampuan dan automatic respons Otak saya untuk langsung dan selalu bertanya, menginvestigasi, belajar, memastikan dan meneliti lebih lanjut setiap informasi yang disampaikan oleh siapapun tanpa perduli apa title-nya atau apa jabatannya. Yach saat ini saya sadar budaya hidup dan belajar di suatu lingkungan bukan hanya mempengaruhi pengetahuan kita namun lebih fatal lagi sangat mempengaruhi dan menentukan KECERDASAN, KOMPETENSI dan KUALITAS HIDUP kita. Saya yakin, jikalau selama 4 tahun atau lebih kita tinggal di suatu lingkungan yang tidak pernah menghargai waktu maka manakala kita keluar dari lingkungan tersebut dan berhadapan dengan lingkungan yang lebih luas maka efisiensi prestasi dan syukur nikmat kita akan waktu pastilah akan sangat rendah, jikalau kita tinggal dan hidup di suatu lingkungan yang selalu “yes Bos…Benar Pak” pastilah otak kita pelan-pelan akan menjadi BODOH dan tidak mampu lagi berpikir alternatif solusi yang lain, jikalau kita tinggal di suatu lingkungan yang tidak boleh berdiskusi, menyanggah atau berargumentasi maka lihatlah kualitas keilmuan kita pastilah sangat dangkal dan tidak siap untuk diuji sumber pengetahuan lain.

BERPIKIR KRITIS adalah sebuah KEBIASAAN (baca: automatic response). Berpikir kritis haruslah secara rutin dan pelan-pelan dilatih dan dibangun. Untuk kita dan bagi anak-anak kita. Tidak ada salahnya untuk bertanya jika kita memang belum mengerti atau meragukannya, bertanya bukanlah dosa berbeda dengan pertanyaan Yahudi kepada Nabi Musa AS saat diminta berkorban sapi karena pertanyaan mereka hanyalah mengada2 dan bertujuan untuk menghindar dari kewajiban berkorban, bertanya adalah sebuah kemampuan dan skill meneliti, bertanya adalah sebuah “keharusan” untuk memperoleh kepastian, ketenangan, dan kukuhnya pilihan sikap.

Bagaimana BERPIKIR KRITIS?

1) Secara sederhana, Critical Thinking dapat dimaknai sebagai sikap dasar “Tidak Pernah Mempercayai Informasi Apapun”!!! (Never trust to any information)….Gila nggak tuh?🙂

Yah itulah Berpikir Kritis….jangan keburu emosi dulu, karena seseorang yang Cerdas dalam berpikir TIDAK BOLEH emosional. Kita hanya boleh percaya setiap jengkal informasi hanya manakala kita sudah memastikan kebenaran informasi tersebut termasuk kebenaran dan detail perspektif informasi tersebut. Untuk itu saya wajib bertanya…latih…latih bertanya untuk setiap informasi: Benarkah? Sumbernya dari mana/siapa? apa dasarnya? bagaimana metodenya? siapa yang membiayainya? tanggal berapa? coba kita lihat dari perspektif detail lain? … Benarkah? Mungkin ini salah?

Contoh menarik!!!:

saya akan mencoba menerapkan cara berpikir kritis ini saat saya MENGINTEPRESTASIKAN DATA STATISTIK :

1. Departement SDM sebuah perusahaan mengumumkan hasil penelitiannya bahwa 40% hari Ijin Cuti Sakit karyawan biasa mengambil hari Jum’at & Senin. Pertanyaan: Tindakan apa yang harus dilakukan manajemen menghadapi data ini?

2. Pada awal perang dunia I, peneliti menemukan tingginya jumlah tentara yang mengalami cedera kepala. Pada saat itu hampir semua tentara hanya mengenakan topi kain. Olehkarena itu selanjutnya pemerintah mengganti semua topi kain dengan topi baja. Namun ternyata hasil penelitian selanjutnya malah menemukan peningkatan sangat drastis dalam hal jumlah tentara yang mengalami cedera kepala. Pertanyaan: Bagaimana mereka menjelaskan data tersebut?

Coba temen2 jawab dulu kedua pertanyaan tersebut lewat kotak komentar sekaligus menguji apakah anda termasuk orang dengan kemampuan berpikir kritis atau “dangkal”?🙂

2) Sisi lain dari Critical Thinking adalah Kebenaran Cara me-Logika kita

Maaf, biasanya orang yang “nggak cerdas” akan mencoba melogika-sesuatu yang nggak ada hubungan sebab-akibat atau bahkan lebih dummy lagi nggak ada hubungannya sama sekali.

Contoh kasus yang menimpa saya🙂 :

Seorang senior saya mempunyai komputer yang rusak yang diletakkan diruangan kerja yang bakalan menjadi ruangan saya. Karena saya akan segera memakai ruangan itu maka saya meng-SMS nya agar memindahkan komputer rusaknya ke tempat lain. Karena SMS pertama nggak juga ditanggapi dan komputer rusaknya juga nggak dipindah2kan selama lebih dari 2minggu akhirnya saya men-SMS dia kembali.

SMS saya: Mohon maaf Pak, mengingatkan lagi tolong komputernya segera dipindahkan dari ruangan saya karena akan saya tempati 1 minggu lagi.

Apa jawaban SMS senior saya: Ya…saya lebih dulu menempati ruangan anda itu dulu sebelum anda datang

Lho…? bingung to? apa relevansi logika jawaban SMS-nya dengan SMS permintaan saya? Senior saya sudah memiliki ruangan sendiri dan kini ruangan itu menjadi hak saya, trus apa hubungannya dengan sejarah senioritas dia??? sering kita jumpai jawaban yang nggak ada hubungannya. Bisa jadi dia hanya minta dihormati ditakuti atau diperlakukan selayaknya yunior kepada yunior, tetapi bisa jadi juga karena dia memang tidak memiliki Critical Thingking dalam hal kecerdasan melogika.

Sekedar mengingatkan ada 2 kategori besar Metodologi Logika dan Berargumentasi:

1. Deductive Argument

termasuk di dalamnya:

A atau B, jika A pasti bukan B

Jika A maka B (A–> B), ada A maka pasti B

Jika A maka B (A–> B), bukan A maka pasti bukan B

Kesalahan Argumentasi seseorang biasanya: Jika A maka B (A–> B), ada B maka pasti ada A SALAH!!! ada B tidak selalu harus ada A!!

2. Inductive Argument

ada dua macam yakni dari Kebenaran Umum –> Benar Spesific

Benar Spesific –> Digeneralisasi

6 Responses

  1. Pagi bang Tiny, wah saya tertarik sekali dengan penjelasan anda tentang berpikir kritis diatas, dan kebetulan itu menjadi inspiratif saya untuk melakukan penelitian tentang berpikir kritis pada studi TA saya di Psikologi, sbnrnya saya ingin banyak penjelesan lbh dalem lagi dari Bang tony mengenai berpikir kritis, termasuk Metodologi Logika dan Berargumentasi untuk mengukur tingkat berpikir kritis seseorang, abang bisa memberikan penjelaannya ga, ato abang punya skala2 tertentu untuk mengukur tingkat kritis seseorang, thanx atas info n bantuannya…!:)

  2. Slmt sore ba tony. saya novi mahasiswa pendidikan fisika tahun akhir, saya mau buat penelitian untuk mengukur kemampuan berfikir kritis siswa terhadap pelajaran fisika. kira2 metode apa yang bagus untuk mengukur kemampuan berfikir kritis tersbut terhadap siswa. mohon bantuannya trims ^_^

  3. Mbak Novi..ide bagus tuch! …saya mah bukan ahli Psikologi, menurut saya Mbak Novi bisa baca2 referensi tentang Psikologi dan Education …coba aja search dulu di Google…

  4. Mbak/Mas Dwi..sorry baru njawab…menurut saya beberapa indikator seseorang berpikir kritis atau tidak adalah ‘seberapa dia perduli (aware) terhadap validitas informasi yang dia terima?’…nah awareness validitas ini diwujudkan ‘seberapa dia perduli terhadap validitas SUMBER INFORMASI?’ dan ‘seberapa dia perduli terhadap Logical Flow (kebenaran menarik kesimpulan) yang berujung pada informasi tersebut?’
    ini pendapat saya lho Mbak berdasar pengalaman ngajar Critical Thinking disini (Flinders Uni-Foundation Course)

  5. Memang pekerjaan yang paling banyak tidak disukai orang adalah berpikir kritis. Biasanya 95 % masyarakat berpikir seadanya saja dan ingin segera kembali menikmati kesenangan semunya ( atau maksud saya hanya bersifat sementara). Sungguh menyedihkan, Yah tapi bisa dilihat memang orang sukses di dunia ini hanya satu digit persen dari seluruh masyarakat dunia. Yang lain mengeluh dan menyalahkan hal ini hal itu.

  6. Mas Tony, saya juga wong jowo.Saya juga mengalami seperti yang Mas Tony ceritakan diatas, yaitu tentang budaya Jawa yang mengutamakan nurut, mengutamakan orang lain, meskipun seringkali gak cocok sama pendapat saya.Sering saya berpikir bagaimana caranya melepaskan budaya yang telah menjadi karakter saya itu, tapi rupanya butuh waktu panjang.
    Kalo gak keberatan, tolong dishare dong Mas gimana caranya Mas Tony bisa “melepaskan diri” dari karakter tersebut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: