Tips & Pengalaman Meraih Fellowships VISITING RESEARCHER & VISITING LECTURER

dsc00041.jpgAlhamdulillaah, semoga Alloh selalu mengingatkan saya akan janjinya:

“Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan”

“Aku adalah seperti persangkaan hamba-Ku”

Sering 2 janji Alloh itu membuat saya berharap-harap cemas. Satu sisi Alloh memerintahkan kita untuk selalu berdoa kepadaNya tidak perduli kondisi keimanan kita saat itu, dan juga Alloh menyuruh kita untuk senantiasa berprasangka baik kepadaNya. Itulah mengapa Alhamdulillaah senantiasa saya selalu menjaga keyakinan hatiku bahwa Alloh selalu menyayangiku dan “pasti” akan selalu mengabulkan permohonan hambaNya yang memohon dan berusaha dengan sebenar-benarnya. Keyakinan-keyakinan itulah yang senantiasa menjaga kebiasaan sikap Positive Thinking atas setiap kejadian.

Namun saya sadar, seorang pembaca blog saya ini mencoba mengingatkan saya betapa “sombong”nya saya manakala saya merasa Alloh “pasti”/”selalu” mengabulkan permohonan saya, betapa sombongnya saya berani merasa dekat dengan Alloh, betapa sombongnya dan tidak tahu dirinya saya selalu memohon kepada Alloh. Heh….bingung saya: Alloh-pencipta kita memerintahkan kita untuk selalu “PD” dalam setiap doa dan pransangka, sedangkan logika manusia mengajari saya untuk tahu diri dalam meminta. Gimana ya jalan tengahnya?

Kawan, Alhamdulillaah…tetap saya selalu yakin dan percaya bahwa Alloh “pasti” akan mengabulkan setiap permohonan hambaNya (karena itu sudah janjiNya), sedangkan kesadaran diri akan rendahnya dan hinanya diri ini dihadapan Alloh membuat saya insyaAlloh memperbanyak istighfar dan ibadah-ibadah “penghapus dosa” saat mengiringi sebuah doa.

Fellowship Visiting Researcher dan Visiting Lecturer adalah sebuah “jalan alternatif” yang Alloh berikan untuk memperoleh beasiswa S3 saya:

September 2003, saat itu saya masih berada di Jepang Alhamdulillaah dalam rangka mengikuti Program Beasiswa IATSS. email dari isteriku menanyakan bagaimana nasib form ADS yang terbengkelai di rumah apakah tidak jadi diisi dan dikirimkan? Secara spontan saat itu saya menjawab:”silahkan saja kalo mau digunakan Adik untuk S2 di Australia.” Meski hingga saat itu nggak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran saya bahwa isteriku yang sekolah sementara saya-suami- yang mengikuti😦 Bulan itu isteriku serius mengisi dan mengirim aplikasi ADS.

November 2003, pulang dari Jepang saya dikejutkan berita ternyata isteriku memperoleh kesempatan tes II ADS. Walah!! serius to iki! agak deg2an saya mulai membayangkan jika isteri saya ketrima ADS dan saya harus ditinggalkan selama 2 tahun atau harus mengikuti menginggalkan pekerjaan saya. Tapi tetep aja saya sebagai suami mengantarkan isteri saya mengikuti tes TOEFL dan tes wawancara di Balairung UGM.

Desember 2003, sebuah surat tebal untuk isteriku dari ADS terkirim ke rumahku di Semaki. Memegangnya, hatiku sudah mampu menebak “walah…isteriku ketrima ADS nih?!” Seneng campur bingung aku membaca surat bahwa isteriku berhasil memperoleh beasiswa ADS untuk mengambil Master Health Services Management di Australia. Seneng karena itu sebuah rejeki, bingung karena bakalan statusku akan menjadi Suami yang ditinggal Isteri ke Bali untuk English for Academic Program (EAP) selama 6 bulan dan mungkin 1,5 tahun di Australia. Bingung karena memikirkan bagaimana pekerjaanku nanti jika kutinggal menjaga keluarga di sana, bingung karena nggak tahu harus ngapain di sana.

6 Bulan lamanya (2004) saya ditinggal isteriku di Bali untuk EAP. Untung kami telah berhasil membangun rumah pertama kami di atas tanah calon warisan untuk isteriku🙂 Ditemani anakku pertama “Mulia Pratama” yang saat itu masih 6 bulan, sepi rasanya aku menjalani hari-harikumeski isteriku selalu berusaha pulang sebulan sekali.

Januari 2005 Isteriku kembali harus berangkat meninggalkan kami ke Australia. Entah saat itu saya hanya bisa berjanji bahwa kami akan mengikutinya setelah semua urusan kantor selesai dan dana untuk menyusul terkumpul.

January – Maret 2005, saat di mana saya tidak tahu bagaimana harus mengambil langkah. Bagaimana mungkin saya sebagai suami meminta ijin kepada kantorku untuk mengikuri isteri (apa nggak kebalikan nih?) Tapi kalo isteri tidak ditemani bagaimana dengan perkembangan anakku nanti dan hubungan batin antar kami? Jika saya nekat meninggalkan kantor, bagaimana dengan pekerjaanku nanti sepulang Australia, padahal saya adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab menghidupi keluarga? Apa yang harus saya lakukan disana, sedangkan saya belum memperoleh beasiswa S3 di sana? mau ngapain di sana: ngumpulin duwit/kerja atau belajar atau ngapain?? Semuanya masih gelap bagiku. Hariku ku jalani dalam rumah pertama ku yang belum 100% jadi: pagi bangun pagi, mandi bareng anakku, sarapan bareng, terus pamitan ama anakku, berangkat ke kantor, muter2 cari duwit modal ke australia, pulang sore hingga malam biasanya sekitar jam 5 sore hingga jam 9 malam, njemput anak di rumah neneknya hingga jam 9 malam, baru kemudian nemeni anakku tidur jam 9-10 malam. Begitu terus ritme harianku. Sering saya menangis dalam sholatku: “Ya Alloh…hamba ingin mandiri, hamba serahkan keluarga hamba padaMu, hamba percaya Engkau pasti akan mengaruniakan hamba beasiswa S3, ya Allooh karuniakan hamba kesempatan untuk BELAJAR & BEKERJA di LUAR NEGERI”.

Target modal ke Australia telah aku catat dan tempel di dinding kamarku: berapa Rp harus terkumpul bulan Januari, berapa Februari, berapa bulan terakhir sebelum berangkat. Ikhtiar mencari supervisor dan beasiswa di Australiapun saya tempuh, Saya masih ingat suatu kali saya meminta seorang Professor di salah satu Universitas di Australia untuk menjadi pembimbing saya untuk sebuah rencana penelitian saya yang masih belum jelas, untungnya dia menjawab email saya meski merekomendasikan profesor lain untuk dihubungi. Ikhtiar pencarian supervisorpun aku lanjutkan. Kini aku memakai strategi lain, bukan searching supervisor tetapi mencari mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di universitas di Australia. Allohu Akbar! ternyata tuntunan Alloh selalu dekat! entah bagaimana searching engine-ku menangkap seorang mahasiswa S3 Indonesia yang sedang belajar di Flinders University-South Australia: dialah teman dan sahabat “penolong” saya: Mas Edi…Seorang Dosen di Komputer UGM, masih muda dan ringan membantu. Lewat belaulah saya direkomendasikan untuk menghubungi seorang Senior Lecturer yang kini menjadi Supervisor saya: Dr. Robert Goodwin.

Beberapa kali email pribadi disertai rencana penelitian saya kirimkan kepada Dr. Robert Goodwin, meminta bantuan dia untuk berkenan sebagai “calon” Supervisor saya jika saya memperoleh beasiswa. Sekali lagi hanya Alloh-lah Zat yang menggerakkan setiap hati!!! siapa yang bisa mengatur, siapa yang bisa menyangka, seorang Doktor luar negeri mau berbuat banyak untuk saya yang sama sekali belum beliau kenal. Dr. Robert Goodwin selalu memberi motivasi saya untuk terus berjuang mencari beasiswa. Meski tiada kepastian, namun dia selalu bersedia sebagai “calon” supervisor dan menuliskan terus dan terus Reference Letter khusus untuk saya. Siapakah yang mampu menggerakkan hati seorang senior lecturer (“calon” supervisor) hingga bersedia mengambilkan form reference letter ke International Office, bersedia menuliskan berkali2 reference letter untuk berbagai beasiswa yang berbeda, bersedia dengan tangannya sendiri mem-fax dan mengemail reference letter untuk saya ke panitia beasiswa, bersedia menegosiasikan fellowships untuk saya, mempercayai saya, dan memberi kepercayaan saya untuk mengajar di kelasnya. Pasti hanyalah Alloh Pencipta Alam dan makhluk yang menggerakkan setiap hati.

Februari 2005, secercah petunjuk skenario Alloh mulai terlihat: Pak Goodwin mengirimkan email kepada saya bahwa dia telah menegosiasikan sebuah Fellowships untuk saya selama saya di Australia, saya disetujui Jurusan School of Informatics & Engineering untuk menerima Fellowships sebagai Visiting Researcher dengan tanggung jawab melakukan penelitian dan mempublikasikan papers ke Internasional Conferences selama saya di sana. Alhamdulillaahirrobil alamiin!! setidaknya kini saya telah memiliki visi dan alasan mengapa harus bertekad untuk ke Australia. Saya HARUS memperjuangkan ijin belajar atau cuti belajar atau apapun statusnya untuk dapat ke Australia: menjaga keluarga dan berjuang mendapatkan beasiswa S3 disana sebagai seorang Visiting Researcher.

Februari 2005, isteriku yang gelisah di Australia selalu terus-menerus menanyakan kapan saya dan Mulia dapat berangkat menyusulnya. Bukan uang saat itu yang menjadi kendala utama kami, namun birokrasi dan aturan universitas saya yang tidak membolehkan saya untuk ijin meninggalkan pekerjaan:

1. Saya akan ijin sebagai apa? Belajar?..lha belum pasti dapat S3. Cuti diluar tanggungan? lha apa diijinkan dan apakah saya nantinya tetap dipertahankan?

2. Saya belum ngurus Fungsional saya. Jadi meskipun diijinkan, tetap saya terhambat syarat fungsional tersebut.

Kini saya dihadapkan pada 2 pilihan:

MENJAGA KELUARGA DAN DIPECAT DARI UPNVY atau

TETAP STAY SEBAGAI DOSEN BIASA DAN MELEPAS ISTERI SENDIRI DI AUSTRALIA

Bingung saya…masih semuanya gelap, namun saya sangat percaya Alloh Maha Kuasa untuk merancang skenarioNya.

Januari-Maret 2005, “Konfrontasi Birokrasi” saya dengan manajemen Menengah ke Bawah di Universitasku UPNVY rutin terjadi. Berbagai keterbatasan kondisi saya menghasilkan Jawaban “TIDAK” untuk setiap peluang saya ke Australia.

Tetap, apapun alasan dan peluang yang saya sampaikan tidak membuka kesempatan Ijin Birokrasi universitas saya. Fakultas dan Bagian Kepegawaian TIDAK MENGENAL apa itu Visiting Researcher😦 sedih saya!! berbuih2 saya berargumentasi, namun wawasan dan kedangkalan aturan tertulis menjadikan usaha dan peluang saya rasanya menemui jalan buntu :(Alhamdulillaaah, Alloh selalu memberi saya keyakinan diri, bahwa setiap Rizqi-Nya tidak mampu dihentikan oleh siapapun selain Alloh sendiri. Ikhtiar negosiasi langsung saya lakukan kepada rektor UPNVY saat itu: Pak Professor Supranto, seorang atasan sekaligus kolega yang sangat saya hormati. Pertanyaan langsung yang menghujam “Mas Tony selesai Visiting Researcher masih mau balik ke UPN nggak?”. “Ya jelas mau balik to Pak” jawab saya polos. “Ya sudah saya bikinkan surat ijin belajar” kata beliau dengan mudahnya. Lho…kok gampang banget ya urusan ama manajemen atas daripada ama manajemen menengah ke bawah.

31 Maret 2005, begitu surat ijin belajar sudah diproses, saya “nekat” untuk berangkat ke Australia dengan resiko apapun.

1 April 2005 saya tiba di Adelaide Airport. Sebuah pengalaman baru yang luar biasa bagi saya.Teman2 bisa membayangkan,saya dengan tas ransel besar, tas koper travelling besar dan tas tas tangan, masih harus menggendong anak saya yang saat itu berusia 1,5 tahun. Belum lagi kostum saya yang salah gara-gara isteriku yang suka “panik” pesen macem2 sebelum kami berangkat: saya memakai sweater tebal tentara, masih dilapis rompi dan ditutup jaket bulu angsa yang tebal + nggendong anak. Sejak dari imigrasi Indonesia sering saya ditanya “dimana Ibunya?”, “Ibunya orang Australia ya?” (apa nggak ngliat kalo hidung anakku nggak mancung?! tanya apa ngejek pikirku) Penerbangan ke Adelaide pukul 1 malam membuatku menunggu sekitar 3 jam harus menemani anakku bermain robot2an sambil menunggu antrian. Anakku yang masih “ileren” (air liurnya keluar terus🙂 ) saat itu sempat membuat iba seorang turis Australia dibelakangku yang mengusapkan tisyunya untuk menghapus air liur anakku (untung turis itu nggak tau kalo air liur anakku itu emang bawaan bayi🙂 Alhamdulillaah sekarang masuh usia 3 tahun sudah berhenti). Gara-gara kostumku yang mencurigakan dibandara Adelaide saya terkena pemeriksaan random:seluruh bawaan saya dibongkar,buku2 catatan dibaca2, dompet discan,dll Lebih 45 menit saya baru dibiarkan lewat.

Minggu I April 2005, tinggal pertama kali di Australia sebagai spouse membuatku benar2 rendah diri dan stress lingkungan. Terus terang buat teman2, rasanya malu dan takut keluar rumah karena takut belum PD ngobrol English🙂 Untung janjian bertemu supervisor memaksa saya untuk memberanikan diri keluar rumah dan bertemu langsung dengan Dr. Robert Goodwin.

11 April 2005, pertemuan pertamaku dengan Supervisor ku…asli!! untuk menutupi ketidak mampuanku menangkap bahasa English “Australia”nya yang “diseret” aku banyak senyum dan mencatat apapun yang mampu kumengerti🙂 Untung beliau tidak tahu kalo aku banyak nggak mudhengnya🙂 Selanjutnya saya diperkenalkannya keliling School ke tiap2 staff sebagai Visiting Researcher dibawah bimbingannya.”Here is Tony, he has a strong background in Engineering!!” Gila banget dia memujiku!🙂

Disinilah dimulai pengalaman pertamaku digembleng kemampuan menulis paper pertama kali. Paper 1 diterbitkan dipresentasikan di Cyprus, Paper 2 diterbitkan dan dipresentasikan di UK, paper ke-3 selesai juga meski saya presentasikan di Indonesia sepulang dari Australia.

Pengalaman Bekerja Blue Color

Jikalah teman2 pernah tinggal di luar negeri untuk waktu yang lama, tentunya dapat mengerti perasaan saya saat itu:pertama kali diluar negeri dan memperoleh hak bekerja tak terbatas dengan kurs sangat tinggi. Ingat berbagai keterbatasan saya saat itu dan mimpi saya untuk membangun keluarga secara mandiri mencambuk semangatku untuk menjadi “Superhero” selama Alloh memberi kesempatan di Australia. Yach!!! saya harus bekerja di sini! Semoga Alloh mengaruniakan saya rejeki hingga kami mampu membeli tanah sendiri dan rumah sendiri DEKAT MASJID, mobil sendiri dan motor sendiri serta melunasi hutang saya yang ada meski kecil. Saya selanjutnya berikhtiar semaksimal mungkin mengambil berbagai kesempatan bekerja yang ada: menjadi Cleaner School, Supermarket, Pabrik dan bar; menjadi operator pabrik Printing; kerja di Poultry, kerja di Kebun Strawberry,bahkan kerja di pabrik kentang yang terkenal sangat berat karena mengangkat 20 kilo karung kentang berpacu dengan mesin sepanjang hari, serta masih masih menjadi tenaga pengganti Cuci Mobil di malam harinya. Semua saya jalani demi “tangisan doa” kemandirian keluargaku.

Kesempatan Visiting Lecturer

Rasa bersalah beberapa kali tidak muncul di kampus, mendorongku untuk menceritakan situasiku kepada Supervisorku,bahwa saya harus bekerja di pabrik kentang. Mungkin kasihan ya dengan saya🙂 atau mungkin juga melihat potensi saya dan pekerjaan saya sebagai dosen di Indonesia, beliau selanjutnya menawariku pekerjaan mengajar di Uni.”I know you are lecturer, are you happy to teach this semester??” …..Ya Allooh!! tawaran dan kepercayaan luar biasa Engkau hadirkan “Yes, I am happy to take this opportunity!!!” jawabku via email mengalahkan kekhawatiranku akan kemampuan Englishku. Pokoknya maju dulu pikirku.

Dua matakuliah saya ampu selama 2 semester masih ditambah pekerjaan marking dan tutorial di saat semester pendek. Semua saya jalani dengan nekat dan penuh kerja keras.

Anakku ke-2 lahir di Australia

Nggak cukup dengan bekerja extra keras siang malam, kegelisahan kami akan kepastian anak ke-2 mendorong kami untuk berikhtiar juga memohon anak ke-2 selama di Australia.

Kehamilan isteriku selama studi ternyata membawa perubahan skala prioritas dalam aktivitasku. Beberapa kali saya harus ganti dan keluar dari pekerjaan karena situasi kehamilan isteri saya. Tapi tak mengapa, semua memang sesuai rencana, bagi kami keluarga adalah yang utama.

7 February 2006, Anakku ke-2 “Makna Alam Pratama” lahir sempurna di Flinders Medical Center melalui operasi Caesar. Hal yang menakjubkan, semua hanya berkat pengaturan dan pertolongan Alloh, kami mampu melaluinya sendiri: Malam hari jam 12-an isteri saya sudah mengeluh kejang2 dan minta diantar ke RS, sambil masih ngantuk saya mengusap2 punggung isteri mengurangi rasa sakitnya dan berharap dia sabar menunggu sedikit pagi. Pagi jam 5.30, saya memandikan anak pertama saya, memasakka dan menyuapinya, pukul 7.00 kami mengantarkan anak pertama kami ke Childcare plus masih sempat isi bensin karena isteri nggak mau resiko ndorong mobil saat mau melahirkan🙂 pukul 7.30an kami sampai di RS. Pagi jam 9-an saya lari ke School menginformasikan ijin nggak bisa ngajar karena isteri melahirkan. Siang hari isteri “bukaan penuh” namun bayi belum berhasil turun. Jam 14-an diambil keputusan isteri di Caesar. Jam 14.30an anakku berhasil lahir dengan selamat…Alhamdulillaaah!

Juli 2006, 1,5 tahun tidak terasa kami telah tinggal di Australia. Berbagai proses kami jalani sebagai sebuah keluarga. Alloh Maha Kuasa: dalam 1,5 tahun Dia berikan nikmat luar biasa Hidup di luar negeri, Belajar dan Bekerja di Luar Negeri dan menjaga Keluarga.

Alhamdulillaahirobbil alamiin! La khaula wa la khuwata ila billaah! 1,5 tahun di Australia, Alloh telah mengaruniakan kepada kami:

1. Tiga Papers International Conferences dan International Journals (30%-40% penelitian S3 saya) published in UK, Cyprus, dan Indonesia

2. Anakku ke 2 dengan gratis🙂 dan mandiri mengatasi sendiri semua situasi sebagai keluarga serta semakin solid sebagai keluarga.

3. Pengalaman kerja sebagai Visiting Lecturer (workshop, tutorial, marking) di kelas Internasional di Flinders University

4. Pengalaman sebagai Visiting Researcher

5. Pengalaman kerja Blue Color: Cleaning school, pabrik, toko dan bar; Kerja Operator di Percetakan; Kerja di Poultry; kerja Cuci Mobil; Kerja di Kebun Strawbery

6. Proses kemandirian keluarga kami menuju keluarga sakinah, mawadah, warohmah: Tanah dan Rumah ke dua kami DEKAT MASJID + JALAN ASPAL + DALAM KOTA (maaf jika saya bercerita ini, semoga Alloh menjauhkan kami dari kesombongan), Motor, dan Mobil (meski mobil ini akhirnya kami jual kembali saat saya harus berangkat ke Arab Saudi dan menyelesaikan rumah ke dua kami)

7. Selesainya sekolah master isteri saya (Master Health Services Management / MHSM) masih dengan Cum Laude

8. Mental dan kemampuan bahasa English saya serta mental internasional saya yang insyaAlloh kian terlatih.

9. Nilah tambah saya dan meningkatnya Semangat serta Keyakinan diri saya dalam berikhtiar menggapai impian Beasiswa S3 ke luar negeri.

Beberapa Point Penting dalam nikmat Alloh Visiting Researcher ini adalah:

1. Kesempatan Visiting Researcher terbukti mampu meningkatkan peluang kita untuk memperoleh Beasiswa dan Kerja lebih baik di masa datang.

2. Rajin dan tekunlah mencari dan menghubungi profesor-profesor yang berpotensi sebagai supervisor anda.

3. Percayalah, jalan takdir anda dapat melalui banyak jalan dan banyak orang: mintalah isteri anda untuk juga aktif mencari beasiswa, siapa tahu jalan takdir beasiswa anda melalui beasiswa isteri anda. Jangan terlalu sempit membaca skenario Takdir Alloh terhadap anda.

4. BERANIlah! terima setiap kesempatan yang ada meski anda pelum PD. ingat: Kesempatan bukan menjadi hak seseorang PENGECUT!!! hanya orang yang NEKAT dan BERANI serta MUDAH BERADAPTASI & BELAJAR yang berhak untuk Sukses!!!

Keep Trying!! Keep Praying!! Keep Believing in Alloh!! Enjoy it! and See Alloh will show and lead the way to achieve your dream!!!

6 Responses

  1. Mas tony, saya seneng and salute mbaca blog anda. Rasanya pengin mendapati pengalaman seperti itu.
    Saya slalu bermimpi pergi ke luar negri dari beasiswa. meskipun banyak temen2 yang mensupport krn menurut mereka kemampuan bahasa inggris saya lumayan, tapi saya merasa secara potensi akademik saya masih sangat kurang. Memang sih IPK S1 saya 3 koma. Dan saya bingung subject apa yang sebenernya saya kuasai tp relevan dengan background saya dan apa yang akan saya lakukan sekembalinya dr studi? benefit apa yg bisa saya jual agar mereka percaya utk memberi beasiswa ke saya. Saya pernah coba ADS 2 kali, tp gagal pas seleksi wawancara internal di lingkungan institusi saya bekerja. Akhirnya saya sekarang jadi males nyoba lagi meskipun utk beasiswa yg lain.
    Pernah ga sih Mas tony merasa seperti ini di awal-awal sebelum keterima beasiswa?
    Boleh minta sarannya untuk saya yang pemimpi ini? kalo boleh dibales lewat email saya ya mas? terima kasih banyak sebelumnya.

  2. Boleh tau ketika jadi visiting research, TOEFLnya berapa ya pak?

  3. Mas Anton, in case of me, jadi Visiting Research tidak pake TOEFL (Alhamdulillaah🙂 namun lebih pada ide/proposal penelitian yang kita ajukan kebetulan sama dengan main project Supervisor /School / Uni tersebut

  4. Assalamu’alaikum Mas Tony,
    Membaca pengalaman Mas Tony, saya jadi “ngiler” juga, pingin ngajak suami dan anak-anak untuk ikutan ke Adelaide. Kebetulan tanggal 22 Juli 2008 nanti, saya dan kawan-kawan dari BKKBN akan berangkat ke Flinders University untuk menuntut ilmu di Program S2 Applied Population Studies. Minta saran-saran tentang apa yang harus saya persiapkan untuk di sana. Tolong kirim ke email saya ya.
    Btw, salam untuk istri, Mulia dan Makna.
    Wassalam

  5. Assalamu Alaikum wr.wb.
    Kepada Yth.
    Bapak Tony,

    Senang sekali saya tanpa sengaja menemukan blog Bapak. Saya sangat terharu membaca kisah pengalaman Bapak dan keluarga hingga anak keduanya lahir di Australia. sepertinya pengen berguru ilmu ikhlas dan TABAH pada Bapak.
    Maaf, perkenalkan nama saya sakinah. saya mahasiswi makassar yang baru menyelesaikan s.1 fak.hukum. Saya sedang ngurus berkas buat apply ADS. saya hampir putus asa, karena berusaha mencari koneksi pada universitas yang saya tuju tapi,selalu gagal.(pihak panitia indonesia timur) mewajibkan para applicant ADS tapi tidak harus untuk apply sendiri jadi kalo berhasil memperoleh letter of acceptance,nya nanti bisa dlampirkan pada dokumen2 yang harus dilengkapi. Saya mohon sarannya apa yang harus saya lakukan. sebenarnya masih banyak hal yang saya ingin tanyakan/share,tapi saya lebih leluasa buat share via email Bapak saja,kalo diijinkan. Sebelumnya terima kasih, saya sangat berharap saran dan bimbingan Bapak berdasarkan pengalaman dari Ibu yang telah menempuh study di sana. Wassalam.

  6. Assalamualaikum Mbak Sakinah🙂

    Menurut pendapat saya, kalo njalani ikhtiar tuch bertekad, ikhtiar maksimal fisik+ibadah, + santai menerima apapun hasilnya🙂 Jadi kalo saya menjalani ikhtiar sesuatu, saya tuch cuman kaya’ mau “mastiin” aja ada nggak sih ya takdir Beasiswa S2/S3 saya di luarnegeri? Nah..untuk bisa dapet jawaban yang akurat maka ikhtiarnya harus maksimal & bukan hanya hitungan 1 atau 2 tahun (kalo saya benernya udah siap apply terus S3 sampai 12 tahun tapi Alhamdulillaah Alloh ngasih ditahun ke-2🙂 ).
    Jangan suka ndikte takdir Alloh, tapi juga jangan lemah dalam bertekad. Misal: Mbak berjanji ‘Saya nggak bakalan nglamar kerja sampai saya dapat S2 dulu!’, jangan salah bisa jadi Mbak bisa dapat S2 kalo udah bekerja terutama kalo pekerjaannya memberikan nilai tambah bagi aplikasi S2 kita (contoh: dosen, peneliti, dll). Terus..hati2 ama ridlo orang tua, sebisa mungkin kalo kita berbeda pendapat usahakan jangan konfrontasi frontal (jangan nyakiti hati ortu), biasanya orang tua hanya perlu diberi penjelasan dan contoh2 kenapa kita punya rencana & keyakinan tertentu (yang biasanya berbeda dr pengalaman ortu kita dulu), jadi selalu hormati lemah lembut dan komunikasi selalu ke Bapak Ibu karena hukum Alloh : ridlo orang tua ridlo Alloh juga dan ini saya yakin berpengaruh dalam ikhtiar kita (tetapi ingat selama keinginan orang tua kita sesuai perintah Alloh).

    Coba mbak Sakinah baca tulisan di blog saya di link “Rahasia Beasiswa” di title “Tanya Jawab Beasiswa”. Menurut pendapat saya TIDAK ADA APApun YANG PASTI atau KITA KETAHUI SAMPAI KITA MENCOBANYA MAKSIMAL. jadi kalo ada komentar “ya kalo lulus” ya itu wajar saja karena kita sama2 tidak mengetahui, untuk mengetahuinya kita harus mencobanya maksimal, tapi kalo belum mencoba mencari jawabannya kita sudah pesimis dan memutuskan untuk “balek badan” dan tidak mencoba ya udah berhentilah mekanisme takdir itu. Benar, kita juga harus bersiap kalo ternyata tidak ada takdir beasiswa dalam hidup kita (tapi jawaban itu menurut saya baru berhenti ketika kita udah umur 60 tahun🙂 karena beasiswa tanpa batasan umur makin banyak contoh beasiswa luarnegeri DIKTI) . InsyaAlloh saya selalu menyiapkan diri terhadap kemungkinan takdir yang ada, jadi biasanya saya melamar lebih dari satu peluang takdir. contoh: saat apply beasiswa apapun saya selalu melamar lebih dari 3 beasiswa, saat melamar dosen saya melamar lebih dari 15 perguruan tinggi, dll. Jadi menurut saya, Mbak maksimal aja dalam “menjaring” peluang takdir, misal ngalamar S2 sambil nglamar kerja sambil nglamar suami misalnya🙂 yang penting TEKAD akan cita2 harus tetap terjaga caranya nyatakan selalu dalam doa dan obrolan.

    Terus pengalaman saya untuk dapat surat rekomendasi dari supervisor disini, pertama kali coba Mbak bikin CV yang semenarik mungkin terutama dalam sisi akademisi Mbak (CV itu nanti mendukung email mbak ke dia), Kedua coba langsung masuk ke website university sekaligus school yang sesuai dengan bidang Mbak terus lihat dosen2 yang ada pelajari research area mereka kalo ada link2 research list baca, Nah…kalo merasa udah ada yang cocok baca dulu Mbak Paper2 Bapak itu biar Mbak sedikit ngerti tentang ilmunya, selanjutnya Mbak kirim email ke dia isinya Komentari Tulisan/Penelitian dia (usahakan sedikit memuji dan sampaikan ketertarikan Mbak untuk melakukan penelitian untuk bidang yang terkait tapi lain objek misal untuk kasus di Indonesia) jangan lupa lampirkan CV mbak juga dan contribusi dari ide penelitian mbak bagi Indonesia atau science. Kalo udah ya jangan lupa doa, sekali lagi hanya Alloh yang menggerakkan hati setiap makhluknya sama sekali bukan kita. Ok coba dulu ya Mbak Sakinah…Bismillaaahirrohmaanirrohim mudah2an berhasil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: