Mengisi HATI haruslah dengan KELEMBUTAN, Bukan dengan Kesombongan, Kekasaran ataupun Hujatan :(

hati.jpgDua kejadian hikmah berdatangan hampir berturut-turut dalam 1 bulan ini kepadaku: seseorang saudara yang saya sayangi mengirimkan email tentang pergeseran keyakinan hatinya akan Tauhid dan keimanan, sementara satu email hikmah yang lain “menampar” mengingatkan saya akan masih bodoh dan dangkalnya ilmu agama saya.

Mengingat email saudara saya, saya sangat sedih; sementara membaca kembali email (bahkan hanya item title nya saja di list email saya) dari kenalan baru saya tersebut rasanya hati ini masih perih. Kedua email itu sepertinya tidak berhubungan, namun sebenarnya memberikan 1 hikmah yang saling berkaitan: Saat saya membaca “kepolosan” saudara saya dalam memahami keimanan/tauhid, rasanya jari-jari ini ingin mencerca dia dengan semua “sumpah serapah”, peringatan-peringatan, hukuman-hukuman yang saya ketahui, ingin rasanya saya “show force” pengetahuan saya tentang tauhid, ingin rasanya saya memaksa dia, melarang dia, menyerang pendapat-pendapat “bodoh” nya. Namun rupanya , hikmah Alloh yang lain mendatangi saya: seorang kenalan baru yang membaca tulisan saya, yang pada akhirnya saya kenal sebagai seorang ustadz dari suatu media favorite saya (dulu saya rutin membeli media itu, dan membaca serta mengagumi rubrik-rubriknya) mencerca, menasehati, dan mengingatkan saya akan BODOH nya diri dan pendapat saya dalam satu tulisan saya. Sedih, sakiiit saat itu….saya langsung teringat apalah jadinya jika saya 1 bulan yang lalu mengingatkan saudara saya dengan cara yang sama. Pastilah saudara saya akan sakit, perih, bahkan saya sangat yakin ia akan lari, menutup telinga dan semakin menjauh dari kebenaran. Hanya gara-gara KESOMBONGAN dan KELEMAHAN saya dalam MENAHAN EMOSI maka sebuah kebenaran dapat tidak tersampaikan.

Saudaraku…

Kita, manusia…adalah makhluk yang diciptakan Alloh dengan tingkat kompleksitas yang sangat tinggi: ada kompleksitas tubuh fisik, ada kompleksitas psikologi, ada kompleksitas IQ, ada kompleksitas Spiritual, dan masih banyak kompleksitas-kompleksitas lain yang kian terungkap dalam jasad dan roh kita ini. Saat saya ingin memberi nasehat kepada seseorang, janganlah saya hanya terpaku pada kandungan (content) kebenaran yang ingin saya sampaikan, namun saya juga harus mempertimbangkan dan memilih CARA BENAR dan SAAT YANG TEPAT. Alhamdulillaah..Alloh berkenan menjaga emosi saya untuk senantiasa mampu melihat sebuah kebenaran meski hati saya sakit dengan caranya, namun yang jauh lebih penting Alloh mengaruniakan saya kemampuan untuk belajar dari setiap pengalaman hati, jiwa dan tubuh ini untuk menjadi manusia yang LEBIH BAIK dalam ILMU dan “BAHASA”.

Mengkomunikasikan sesuatu…apalagi kebenaran… bukanlah suatu hal yang sederhana dan dapat dipaksakan. Kebenaran barulah dapat dicerna, dipahami, diendapkan dan akhirnya dilaksanakan sebagai sebuah keyakinan manakala kebenaran itu disampaikan dengan cara yang sesuai fitrah manusia. Dan fitrah manusia dalam menerima kebenaran adalah BUKAN melalui CACI-MAKIAN, bukan melalui HUJATAN, bukan dengan DIRENDAHKAN, dan bukan dengan KEKERASAN. Fitrah manusia dalam menerima suatu kebenaran adalah melalui suasana dan cara LEMAH LEMBUT, SABAR, dan SANTUN sebagaimana rahasia mekanisme jiwa manusia yang Alloh singkapkan kepada kita:

1. LEMAH LEMBUT

“Maka dengan rahmat daripada Allah, maka kamu BERLEMAH LEMBUT terhadap mereka. JIKA KAMU BERSIKAP KERAS NISCAYA MEREKA AKAN MENJAUHI KAMU. Maka berilah kemaafan kepada mereka dan memohon ampunan buat mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam apapun urusan. Maka apabila kamu telah berusaha, hendaklah kamu bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakal kepada-Nya”.

2. SABAR

QS Al-‘Asr (103) ayat 3: “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

3. BERKASIH SAYANG

QS Al Balad (90) ayat 17: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang

Meski masih sakit, melalui hikmah ini saya selalu bersyukur kepada Alloh karena saya bisa membuktikan dan merasakan bahwa:

Sayatan LIDAH/TULISAN lebih SULIT diSEMBUHkan dari sayatan pedang. Semoga Alloh menjaga saya untuk selalu berhati-hati dalam bertutur kata dan menulis, semoga Alloh mendidik saya untuk selalu mampu Sabar, Rendah Hati, Lembah Lembut serta Mengasihi dan Menyayangi.

Hati yang lembut dapat dimasukkan suatu kebenaran dengan 2 pilihan cara:

Cara 1 : kita bisa memaksanya, merobek ataupun menyayat hati lembut itu kemudian memasukkan kebenaran kedalam hatinya. Meski kebenaran akhirnya diketahui, seringkali perih dan sakitnya hati membuat pemilik hati lebih berkosentrasi pada rasa sakitnya bukan pada kebenarannya, ataupun kebenaran itu akhirnya dipahami oleh si Pemilik hati namun masih jua menyisakan luka-luka hati yang sulit diingkari.

Cara 2 (semoga Alloh mengingatkan saya untuk senantiasa melakukannya: Memasukkan kebenaran dalam hati yang lembut ini juga dengan KELEMBUTAN, KESABARAN, dan KASIH SAYANG….Berendah diri mendengarkan dan memahami pengertian yang difahaminya, lebih banyak bertanya dan menggali dahulu memberikan kebebasan dia untuk mengungkapkan kekesalan dan ketidak-tahuannya. Barulah dengan komunikasi 2 arah (diskusi) yang baik dan saling menghargai, berdasar ayat dan hadist yang sohih bahkan logika yang benar, insyaAlloh tanpa diminta kebenaran itu akan meresap ke dalam hati kita.

Mudah-mudahan Alloh menjaga ilmu ini dan memberikan kekuatan bagi saya untuk senantiasa melaksanakannya: Say with SKLR (Sabar, Kasih Sayang, Lembut, dan Rendah hati)! Semoga saya selalu mengingat Rahasia Alloh akan Syurganya:

“Tidak akan masuk surga seseorang, jika masih terdapat KESOMBONGAN dalam hatinya meski sebesar biji zarah.”

Rendah hati…jangan sombong….karena Kesombongan hanyalah hak Alloh, Sombong hanyalah “pakaian” Alloh; Alloh sangat membenci orang sombong; kesombongan adalah “tutup” bagi ilmu pengetahuan kita, saat kita merasa pandai dan menilai orang lain rendah pada saat itu kita menutup wadah ilmu pengetahuan kita dan menutup keridloaan Alloh untuk mencintai dan merahmati kita dengan ilmu yang lebih baik. Semoga Alloh senantiasa melindungi kami dari sifat serta sikap sombong, semoga Alloh mencukupkan keridloaanNya pada kami hingga kami tidak lagi membutuhkan pujian makhluk serta mampu senantiasa berendah hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: