Mengapa harus dengan MARAH?

images.jpgPagi ini sebuah hikmah baru, Alloh hujamkan ke dalam hati kecil ini. Sebuah insiden kecil dalam permainan sepakbola. Kamis & Jum’at adalah hari rutin olahraga bagi mahasiswa KSU Indonesia, seringkali mahasiswa Arab, Thailand ataupun Afrika ikut bergabung bermain bersama. Disinilah sering terjadi benturan karakter: mahasiswa Indonesia yang main sepakbola hanya sebagai permainan, enjoy dan easy going berbeda dengan mahasiswa Arab yang sering berdebat hanya untuk sebuah perbedaan apakah handsball, corner, pemain lawan yang badannya terlalu besar, ataupun hal-hal kecil lainnya. Mbuh! mumet kalo main ama orang Arab, banyak eyel2ane!… Terjadi lagi pagi ini, berawal dari insiden offside, handsball, out dan fairness akhirnya Mas Mubasir (salah satu teman yang sering menolongku) terlibat perdebatan dengan seorang mahasiswa Arab. Awalnya perdebatan ringan, terus berlangsung hingga akhir nya saling berteriak dan hampir berkelahi sebelum masing-masing teman Arab dan Afrika melerai dan menahan mereka. Permainanpun usai setelah bola diambil Mas Mubasir dan berlalu ke Math’am.

Hh……..menyaksikan kejadian tadi, tiba-tiba kilatan memori masa lalu saya berputar dalam benak ini. Saya ingat betapa mudah saya marah, betapa mudah orang lain membakar emosi hati ini…betapa mudah orang lain mendorong saya untuk menunjukkan “kelemahan” diri ini. Saya ingat begitu mudah saya marah kepada beberapa temen di kantor saya saat mereka membicarakan saya dan menuduh saya memanfaatkan posisi saya sebagai Koordinator Skripsi untuk merekrut sebanyak mungkin mahasiswa di bawah bimbingan saya, saya ingat wajah anakku sayang “Mulia” saat ia ketakutan aku cengkeram keras tangannya dan aku marahi karena menabrak adiknya yang masih kecil dan tidak mendengarkan nasehat Bapaknya, betapa mudahnya saya marah kepada isteriku tercinta hanya gara-gara masalah sepele, betapa mudahnya orang lain memancing saya marah, betapa mudahnya energi fisik ini aku relakan terkuras untuk sesuatu yang seringkali tidak bermakna.

MARAH….kenapa saya marah??? kenapa harus marah??…jika bisa menyampaikan tanpa marah, kenapa lebih baik dengan marah???…kenapa seseorang marah?? pertanyaan itu mengelitik hatiku. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi PERENUNGAN & PERINGATAN bagi saya selalu:

1. Seringkali…Saya TERSINGGUNG untuk hal kecil-kecil.

Sebelum saya “menikmati” rasa tersinggung saya, sebaiknya sebelumnya harus saya tanyakan dulu ke diri lemah ini, :

– “SUDAH LAYAKKAH HAL INI MENJADI MASALAH BUAT SAYA?”…”Apakah hal ini benar-benar hal urgent untuk dimasukkan hati, dipikirkan dan dirasakan?”…”Apakah sebegitu gawatkah hal ini berpotensi bagi masa depan saya?”…. jika jawabnya Ya…maka silahkan aja jika memutuskan untuk Tersinggung. Namun jika jawabnya TIDAK LAYAK, ya wis koyo ngono kok dipikirke?! pake aja istilah Gus Dur “Gitu aja kok Repot?!”….

2. Seringkali saya MARAH hanya untuk SOMBONG bahwa saya BERANI dan HARUS DIPERHITUNGKAN..

Yang pernah saya rasakan, sering saya marah hanya sekedar agar saya DITAKUTI / DIPERHITUNGKAN anak, isteri, teman, atau orang lain. Saya Marah, Saya teriak, Saya gebrak..agar orang lain tahu saya serius tersinggung. Namun saya pikir buat apa saya teriak?Apakah benar orang yang BERANI adalah BERANI MARAH?

Jika memang saya “memutuskan” untuk tersinggung, cobalah tenang dahulu…diam…pikirkan apa inti perkataannya?

– Jika perkataannya memang OMONG KOSONG & hanya untuk MEMANCING EMOSI dan MENYAKITI belaka : Cobalah untuk menjawabnya dengan bercanda dan membuat dia tidak mampu memancing kembali. Jika memang Pancingan Emosi itu diulang-diulang lagi, segeralah berlalu sambil berterus terang, “Sorry ya saya pindah dari pada saya emosi….🙂 ” …Selanjutnya pikirkan bagaimana bersikap terhadapnya jika kebiasaan memancing emosi teman tersebut sepertinya akan berulang-ulang lagi jika bertemu (contoh: membatasi diri berinteraksi, menyampaikan sikap via email, menyerahkan pekerjaannya atau cara lainnya).

– Jika perkataannya adalah karena KETIDAK-TAHUAN: maka pikirkan Benarkah saat ini adalah SAAT paling tepat untuk menjawabnya? “Bahasa”, fakta dan logika yang bagaimana yang paling tepat untuk menjawabnya?

– Jika perkataannya memang BENAR (meski bahasa dan caranya menyakitkan) : maka meski hati ini PERIH karena kata-kata dan cara dia berkata tetap Sekuat Tenaga Usahakan BERTERIMA KASIH kepadanya, BERSYUKUR kepada Alloh yang telah memberi HIKMAH melalui “pil” yang pahit (yang sulit dilupakan), istighfar, meminta maaf, dan kembali mohon ilmu kepada Alloh dan keadaan yang LEBIH BAIK.

Ingatlah bahwa Umar al-Khattab juga pernah marah apabila dituduh berlaku tidak adil dalam pembahagian ghanimah namun kemudiannya beliau ditegur oleh seorang sahabat yang membacakan kepada beliau sepotong ayat al-Quran yang berbunyi:

“Berilah kemaafan dan suruhlah yang ma’ruf dan menjauhi kehidupan jahiliyah.”

Nabi Isa a.s. berkata kepada sepupunya Nabi Yahya a.s.: Saya akan mengajar kamu satu ilmu yang berguna iaitu jangan marah. Nabi Yahya a.s. bertanya: Bagaimana saya tidak akan marah?

Nabi Isa a.s. berkata: Bila ada orang yang mengatakan kesalahan kamu, maka katakan ITU MEMANG DOSA SAYA TETAPI SAYA TIDAK INGAT DAN SAYA MEMOHON AMPUNAN ALLOH SWT. Dan jika ada orang mengatakan suatu perkara yang tidak dilakukanmu, maka BERSYUKURLAH karena orang tersebut telah membuat kebaikan kepadamu dengan menghinamu.

3. MARAH tidak identik dengan ORANG YANG BERANI. Orang yang mudah Marah adalah orang yang lemah, orang yang KUAT MENAHAN MARAH adalahORANG yang KUAT:

Wasiat Nabi Muhammad SAW:

“Apakah yang kamu anggap kuat dalam berjuang? Sahabat berkata: Orang yang tidak dapat dikalahkan dalam perjuangan. Nabi SAW menerangkan: Bukan demikian sebaliknya ialah orang yang DAPAT MENAHAN DIRINYA KETIKA MARAH”.

“Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan diri­nya ketika marah” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud).

“Orang yang paling kuat kalangan kamu ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah. Dan orang yang paling lembut ialah orang yang memberi kemaafan sedangkan beliau mampu untuk membalasnya”.

Contoh “ORANG YANG KUAT” ini adalah Sayidina Ali r. manakala di peperangan beliau tidak jadi membunuh lawannya (meski ia mampu melakukannya0 hanya marah kerana terkena ludahan lawannya.

4. MARAH sumbernya dari SYAITAN.

Sabda oleh nabi SAW: “Sesungguhnya kemarahan itu berasal daripada syaitan dan syaitan daripada api, dan api dapat dipadamkan dengan air. Apabila kamu sedang marah, hendaklah kamu berwudhu”.

“Jagalah dirimu daripada marah. Sesungguhnya marah itu laksana bara api yang menyala di dalam hati anak Adam. Cobalah perhatikan (ketika seseorang sedang marah), lehernya kembang, dua biji matanya merah.

Jadi janganlah kita bangga jika kita mampu MARAH, karena berarti kita membanggakan KELEMAHAN kita.

5. MARAH hanya akan membuat ORANG MENJAUH dari kita

Coba kita ingat-ingat, saat seseorang yang baru saja marah-marah menyombongkan kemarahannya kepada kita, apakah kita memuji dan mengidolakan orang itu ataukah kita merasa “tidak nyaman”, ingin menjauh darinya, dan menjadi hati-hati terhadapnya?

Ini dapat difahami melalui sifat nabi SAW yang bersifat penyantun dan tidak mudah melepaskan amarahnya. Sebagai rujukan beberapa kisah nyata beliau SAW dalam kisah peminta hutang yang berkasar, wanita tua Yahudi yang sering mencerca baginda SAW, kejahatan Abu Sufyan dan pemuka-pemuka Mekah yang lain, pengkhianatan Abdullah bin ’Ubay bin Salul, dan lain-lain. Kisah dakwah nabi SAW di Thaif juga merupakan satu klimaks mempamerkan kesabaran nabi SAW yang tiada tara.

Allah SWT menerangkan kepada kita Hukum Alam Nya:

“Maka dengan rahmat daripada Allah, maka kamu BERLEMAH LEMBUT terhadap mereka. JIKA KAMU BERSIKAP KERAS NISCAYA MEREKA AKAN MENJAUHI KAMU. Maka berilah kemaafan kepada mereka dan memohon ampunan buat mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam apapun urusan. Maka apabila kamu telah berusaha, hendaklah kamu bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Jadi Mudah-Mudahan Alloh senantiasa memberikan kekuatan kepada saya untuk dapat SELALU LEBIH BAIK dan MENJAGA serta MENGENDALIKAN AMARAH:

a. Menahan Marah = Mengundang RIDLO ALLOH

Nabi juga ber­sabda: “Barang­siapa menahan marah padahal ia mampu untuk melam­piaskan­nya, maka di hari kiamat Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan”.

b. Menahan Marah = MEMILIH BIDADARI di Syurga🙂 (isteriku jangan cemburu ya)

“Barangsiapa yang dapat menahan kemarahannya padahal ia dapat meluahkannya, nescaya Allah SWT memanggilnya di hadapn khayalak ramai untuk dipersialakn memilih bidadari yang dikehendakinya”.

c. Menahan Marah = PERLINDUNGAN ALLAH

Abbas r.a. ketika mentafsirkan ayat: Tolaklah kejahatan yang dilakukan kepadamu dengan cara yang sebaik-baiknya berkata:”Sabar menahan marah, memaafkan di saat diganggu. Barangsiapa yang berbuat demikian, akan dilindungi Allah dan musuhnya akan ditundukkan.”

d. MENAHAN MARAH = MENCEGAH KEMURKAAN ALLAH SWT

Pernah ’Amr bin al-’As bertanya: Bagaimana agar saya tidak dimurkai oleh Allah SWT? Maka nabi SAW bersabda: Janganlah kamu marah.

e. MENAHAN MARAH= TAQWA = SYURGA

Selanjutnya perilaku orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenar­nya ia mampu melakukannya.

Kata al-kazhimiin berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyarat­kan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. (Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).

“Yaitu orang yang memberikan infaq ketika lapang dan sempit, serta MENAHAN KEMARAHANNYA DAN MEMBERI MAAF SESAMA MANUSIA. Dan Allah menyukai orang-orang yang melakukan kebaikan”.

Allah SWT juga memuji golongan ini di dalam ayat yang lain: Dan ketika marah, mereka memberikan kemaafan.

e. MENAHAN MARAH = AMAL PALING UTAMA

Pernah orang bertanya kepada nabi SAW tentang amal yang paling utama. Nabi SAW menjawab Husn al-Khuluq (perangai baik). Beliau bertanya lagi dan nabi SAW menjawab dengan jawapan sama. Diulangi kali ketiga, nabi SAW berkata: Kenapakah kamu masih tidak faham? Perangai baik ialah kamu jangan marah jika kamu mampu.

CARA MENGATASI MARAH

1- Berwudhu’ (atau mandi)

“Sesungguhnya kemarahan itu berasal daripada syaitan dan syaitan daripada api, dan api dapat dipadamkan dengan air. Apabila kamu sedang marah, hendaklah kamu berwudhu”.

2- Ubah posisi kedudukan: Jika berdiri, hendaklah duduk. Jika duduk, hendaklah baring. (berdasarkan anjuran nabi SAW)

3- Berlindung dengan nabi SAW dengan membaca ta’awuz

4- Berzikir kepada Allah SWT: Barangsiapa yang ingat kepada-Ku ketika marah, nescaya aku ingat kepadanya ketika Aku marah, dan tidak akan aku hilangkan rahmat-Ku sebagaimana orang-orang yang Aku binasakan atau hilangkan rahmat-Nya.

5- Ingat kebaikan orang dan melupakan keburukannya. Juga ingat keburukan kita dan lupakan kebaikan yang kita lakukan.

6- Sentiasa berprasangka baik dan tidak merasakan diri kita lebih mulia berbanding orang yang kita marahi. “Janganlah kamu merendahkan satu kaum yang lain karena boleh jadi ia lebih mulia daripada kamu”.

Akhirnya:…………………………MEMAAFKAN

Janganlah kita marah sehingga melupakan kebaikan orang terhadap kita selama ini. Ibarat kata orang, marahkan nyamuk kelambu dibakar.

Doa nabi SAW: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kalimah yang benar ketika aku sedang marah dan ketika ridha”.

Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah kita, adalah seseorang yang sangat pemaaf. Aisyiyah r. a. berkata: “Saya belum pernah melihat Rasulullah SAW membalas karena beliau dianiaya selama hukum Allah tidak dilanggar. Beliau akan memaafkan kesalahan orang lain yang mengenai dirinya, karena itu adalah sifat utama. ”

Memaafkan berarti menghapuskan. Jadi seseorang baru dikatakan memaafkan orang lain apabila ia meng­hapuskan kesalahan orang lain itu, kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya. Ini adalah perjuangan untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Karena menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan mema­­af­kan, menuntut orang untuk menghapus bekas luka hati akibat perbuatan orang. itu tidak mudah, oleh karena itu pantaslah dianggap perilaku orang bertakwa.

Untuk memberikan dorongan kepada manusia agar mau memaafkan, Allah berulang kali memerintahkannya di dalam Al-Qur‘an, antara lain dalam surat Al-A’raf 199, Al-Hijr 85, dan Asy-Syura 43. Sementara itu Rasulullah SAW juga menjelaskan keuntungan orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain, di antaranya:

“Barangsiapa memberi maaf ketika dia mampu membalas, maka Allah akan mengam­puninya saat ia kesukaran”. Dan “Orang yang memaafkan terhadap kezhaliman, karena mengharapkan keredhaan Allah, maka Allah akan menambah kemuliaan kepadanya di hari kiamat” (Lengkapnya dapat dilihat dalam Muhammad Ahmad al-Hufy, Edisi Indonesia, hal. 272).

Semoga Alloh senantiasa mengingatkan saya dan keluarga saya akan hikmah ini, memberi kekuatan kepada diri lemah ini untuk selalu menjadi Manusia yang “KUAT” dan Ringan Memaafkan.

Note: Di rangkum dari pengalaman batin dan berbagai sumber

2 Responses

  1. banyak yg bs dipetik..

  2. ijin share y…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: